Kolaborasi dan Deteksi Dini Karhutla
Sementara itu, Wakil Kepala BPGMN Sriyanto menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam penanganan karhutla. Menurutnya, BPGMN merupakan salah satu dari sejumlah entitas yang terlibat dalam upaya pengendalian kebakaran sehingga koordinasi menjadi faktor penting.
“Tentunya kolaborasi ya, kita ini kan salah satu badan dari sekian entitas yang memang bertukar untuk menangani karhutla,” tuturnya.
Sriyanto juga menyoroti pentingnya kemampuan mendeteksi dan mengidentifikasi permasalahan sejak dini. Hasil deteksi tersebut selanjutnya perlu dianalisis untuk melihat korelasi berbagai faktor dan menyusun proyeksi sebagai dasar penentuan langkah penanganan.
Salah satu indikator yang perlu dipantau adalah kondisi permukaan air gambut. Menurutnya, pemantauan tersebut dapat membantu memperkirakan risiko kebakaran sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal.
“Jadi harus bisa mendeteksi, mengidentifikasi semua permasalahan yang ada, kemudian kita membuat analisa korelasi, dan akhirnya kita membuat proyeksi. Saya sudah melihat beberapa negara, itu sesuatu yang bisa diperkirakan. Kalau kita sudah tahu permukaan air gambut itu, kalau misalkan itu sudah kurang dari 40 cm, ya kita harus segera berbuat,” ujarnya.
Melalui penguatan pengelolaan gambut, pemulihan ekosistem, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas lembaga, BPGMN diharapkan dapat membantu menekan kejadian karhutla berulang serta menjaga keberlanjutan ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia. (M-011)

