JAKARTA,MENITINI.COM – Air bah yang menerobos dinding rumah, jalan desa yang hilang ditelan longsor, hingga permukiman hancur diterjang banjir kini bukan lagi cerita musiman. Bagi ribuan keluarga di berbagai wilayah Indonesia, bencana telah menjadi kenyataan sehari-hari dan kecemasan bahwa tanah tempat mereka hidup bisa lenyap sewaktu-waktu terus menghantui.
Di tengah situasi itu, orang muda Indonesia mulai bersuara lantang. Mereka menilai krisis iklim terus memburuk, sementara solusi yang ditawarkan justru menjauh dari akar masalah. Anak muda menolak apa yang mereka sebut sebagai false solutions atau solusi palsu dalam penanganan krisis iklim.
Fathan Mubina (25), Geographic Information System Analyst dari Trend Asia, menilai solusi palsu hanya menjadi tameng bagi industri perusak lingkungan.
“False solutions adalah distraksi teknokratis yang memberi jalan bagi korporasi untuk terus menghasilkan emisi dan merusak hutan, sambil mengabaikan krisis yang sedang kita hadapi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12).









