JAKARTA,MENITINI.COM – Perempuan di Indonesia kini semakin aktif memanfaatkan peluang ekonomi dari sektor pariwisata berbasis komunitas. Data terbaru dari Airbnb menunjukkan hampir setengah dari tuan rumah di Indonesia pada 2025 merupakan perempuan, dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp55 juta per tahun.
Selain itu, kualitas layanan yang diberikan juga cukup tinggi. Lebih dari 40 persen properti dengan label “Guest Favorite” serta yang meraih rating tertinggi di Indonesia dikelola oleh tuan rumah perempuan.
Di balik angka tersebut, terdapat berbagai kisah personal tentang perempuan yang memilih jalan hidup berbeda—mulai dari kembali ke kampung halaman, mengutamakan keluarga, hingga membangun kemandirian ekonomi dari rumah sendiri.
Mengangkat Potensi Bali Utara
Salah satu kisah datang dari Made Mawar (31), perempuan asal Sambangan, Bali Utara. Setelah bertahun-tahun bekerja di sektor pariwisata dan wellness di Ubud, ia memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk mengembangkan potensi daerah tersebut.
Made membangun rumah ramah lingkungan berbahan bambu dan kayu yang kemudian disewakan melalui Airbnb. Melalui langkah itu, ia tidak hanya memperkenalkan pesona Bali Utara kepada wisatawan mancanegara, tetapi juga membuka peluang kerja bagi generasi muda setempat.
Menurutnya, menjadi tuan rumah memberikan dampak besar, baik secara finansial maupun personal. Selain memperoleh penghasilan, ia juga bisa tetap tinggal di desanya tanpa harus bekerja di Bali Selatan.
Ia juga mulai menawarkan berbagai pengalaman budaya kepada tamu, termasuk ritual pemberkatan air atau water blessing yang menjadi bagian dari tradisi Bali.
Fleksibilitas Waktu bagi Keluarga
Cerita lain datang dari Dewi Mahayuni (44). Sekitar sembilan tahun lalu, saat menjalani program bayi tabung, ia memilih untuk tetap berada di rumah. Pada saat yang sama, keluarganya membangun paviliun kecil yang kemudian ia sewakan melalui Airbnb.
Langkah sederhana tersebut ternyata membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dewi kini bisa mengatur waktu kerja secara fleksibel hanya melalui ponsel.
“Jika tidak menjadi tuan rumah di Airbnb, mungkin saya masih bekerja di kantor dan tidak punya banyak waktu untuk keluarga,” ujarnya.
Pendapatan dari penyewaan vila bergaya Joglo miliknya di Seminyak juga membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai upacara adat yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Bali.
Membangun Kepercayaan Diri dan Jaringan
Kisah inspiratif lainnya datang dari Irene Vania (26). Awalnya ia hanya membantu orang tuanya mengelola properti keluarga di Airbnb. Namun seiring waktu, peran tersebut berkembang menjadi pekerjaan penuh waktu.
Melalui interaksi dengan wisatawan dari berbagai negara, Irene mengaku menjadi lebih percaya diri dan terbuka terhadap pengalaman baru.
Ia juga aktif merekomendasikan restoran lokal, pasar tradisional, dan usaha kecil kepada para tamu. Hal ini secara tidak langsung turut mendukung ekonomi komunitas di sekitarnya.
Selain menyediakan akomodasi, Irene bersama ibunya juga mengelola pengalaman kelas memasak yang memperkenalkan hidangan tradisional Indonesia kepada wisatawan.
Pilihan Sederhana dengan Dampak Besar
Kisah Made, Dewi, dan Irene menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, perubahan justru lahir dari keputusan sederhana—memanfaatkan rumah sendiri, membangun usaha kecil, dan berbagi budaya dengan dunia.
Melalui platform seperti Airbnb, perempuan Indonesia kini semakin mampu menciptakan peluang ekonomi sekaligus memperkuat komunitas lokal.









