Miras Diduga Jadi Pemantik Tawuran Soabali, Kapolsek Nusaniwe Bongkar Fakta di Balik Keributan 

Kapolsek Nusaniwe, Iptu Rudy Ahab.
Kapolsek Nusaniwe, Iptu Rudy Ahab.
AMBON, MENITINI.COMTawuran yang pecah di depan SPBU Soabali, Kota Ambon, Sabtu (22/8/2026) dini hari, kembali menyoroti bahaya konsumsi minuman keras (miras) yang diduga menjadi salah satu pemicu hilangnya kendali sejumlah anak muda.
Kapolsek Nusaniwe, Iptu Rudy Ahab, bahkan mengungkap fakta yang membuatnya prihatin. Saat turun langsung ke lokasi kejadian, ia menemukan hampir seluruh anak muda yang berada di titik tawuran tercium bau alkohol.
“Ketika saya turun ke TKP subuh itu, hampir semua anak-anak muda itu berbau alkohol,” ungkap Rudy.
Temuan tersebut menjadi salah satu alasan kuat Rudy kembali melontarkan peringatan keras kepada masyarakat, khususnya warga di kawasan Mangga Dua, Air Mata Cina (Amaci), dan Soabali.
Pesan itu disampaikan dalam kegiatan Bacarita Kamtibmas yang dihadiri Kapolresta Ambon dan Pulau-Pulau Lease di pangkalan ojek Mangga Dua, samping SMA Pertiwi Ambon, Sabtu malam (22/8/2026).
Rudy menegaskan, miras tidak boleh menjadi pintu masuk bagi munculnya persoalan baru di tengah masyarakat.
Sejak sekitar tiga minggu menjalankan tugas sebagai Kapolsek Nusaniwe, kata Rudy, ia sudah berulang kali mengingatkan masyarakat mengenai dampak buruk konsumsi miras yang tidak disertai kemampuan mengendalikan diri.
“Kalau mengonsumsi minuman keras, hindari berbagai persoalan. Jangan sampai karena miras kemudian terjadi bentrokan atau tawuran,” tegasnya.
‘Satu Botol Saja Sudah Bikin Masalah’
Rudy kemudian membandingkan pengalamannya saat bertugas di Maluku Barat Daya (MBD) dengan situasi yang ditemuinya di wilayah Nusaniwe.
Menurutnya, persoalan utama bukan semata-mata soal ada atau tidaknya orang yang mengonsumsi miras, melainkan kemampuan seseorang mengendalikan emosi dan perilaku setelah mengonsumsinya.
“Di sana mereka pagi minum, malam minum hingga pagi tidak ada masalah. Kita minum sedikit saja, baru satu botol kita bikin masalah,” ujar Rudy.
Pernyataan itu menjadi sorotan. Sebab, menurut Rudy, ketika alkohol bertemu emosi yang tidak terkendali, persoalan kecil bisa berubah menjadi pertengkaran, bentrokan, bahkan tawuran massal.
“Satu botol saja bisa menjadi awal dari masalah besar,” demikian pesan tegas yang ingin disampaikan Kapolsek Nusaniwe kepada masyarakat.
Ia pun meminta warga tidak hanya mengandalkan polisi ketika konflik sudah pecah dan massa telah saling berhadapan.
Menurut Rudy, pencegahan harus dimulai jauh sebelum keributan terjadi, yakni dari keluarga, lingkungan, dan kelompok pergaulan anak-anak muda.
Polisi Ajak Warga Putus Mata Rantai Tawuran.
Dalam kegiatan Bacarita Kamtibmas tersebut, Rudy juga menyambut baik usulan Ketua RT untuk membangun komunikasi cepat melalui grup WhatsApp Kamtibmas yang melibatkan warga dan kepolisian.
Menurutnya, sistem komunikasi cepat sangat penting agar setiap potensi gangguan keamanan dapat segera diketahui sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.
“Terkait usulan WhatsApp itu sebenarnya sudah dibentuk di OSM, saya juga sudah digabungkan di situ,” katanya.
Rudy meminta warga Mangga Dua, Amaci, dan Soabali tidak ragu memberikan informasi kepada kepolisian apabila melihat adanya potensi gangguan Kamtibmas.
Ia menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat kepolisian.
“Saya meminta dukungan seluruh masyarakat untuk bersama-sama Polsek Nusaniwe menciptakan Kamtibmas di lingkungan masing-masing,” pintanya.
Menurut Rudy, polisi tidak mungkin bekerja sendiri dalam menjaga situasi keamanan di tengah masyarakat.
“Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Untuk menciptakan keamanan dan kedamaian di lingkungan, kita harus bersama-sama,” tandasnya.
Jangan Tunggu Tawuran Pecah
Pesan tegas Kapolsek Nusaniwe itu menjadi salah satu poin penting dalam Bacarita Kamtibmas.
Mencegah tawuran, kata dia, tidak cukup hanya dengan membubarkan massa ketika bentrokan sudah pecah. Yang lebih penting adalah memutus mata rantai persoalan sejak awal, termasuk mengantisipasi konsumsi miras yang diduga dapat memperburuk emosi dan memicu tindakan tak terkendali.
Keributan di Soabali pun menjadi alarm keras bagi masyarakat.
Jangan sampai hanya karena pengaruh alkohol dan persoalan sepele, ketenangan lingkungan berubah menjadi arena tawuran.
Polisi kini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menunggu sampai konflik meledak, tetapi bergerak lebih cepat mencegahnya.
Sebab ketika emosi sudah tersulut dan alkohol mengambil alih kendali, satu botol miras bisa menjadi awal dari keributan yang jauh lebih besar. (M-009)
  • Editor: Daton
BACA JUGA:  ABK Diduga Bakar Kapal Usai Dimarahi Nakhoda, Lalu Lompat ke Laut di Perairan Aru
Iklan
Scroll to Top