JAKARTA, MENITINI.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali mengirimkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk mendukung pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebanyak 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Senin (7/9/2026). Mereka akan ditempatkan di empat kabupaten di Pulau Flores, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
Berbeda dengan pengiriman tahap pertama yang lebih banyak berfokus pada pelayanan medis, penugasan TCK Batch 2 diarahkan untuk memperkuat layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat terdampak bencana.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, mengatakan dukungan psikososial menjadi perhatian penting karena dampak gempa tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi mental masyarakat.
“Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores,” ujar Sumarjaya, Senin (7/9/2026).
206 Tenaga Kesehatan Sudah Dikirim pada Tahap Pertama
Pengiriman 160 TCK Batch 2 merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes terhadap penanganan dampak gempa di NTT. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah diberangkatkan pada tahap pertama untuk membantu pelayanan kesehatan masyarakat terdampak.
Pada tahap kedua, para tenaga kesehatan akan memberikan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit lapangan.
Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang turut mendukung pelayanan bagi masyarakat terdampak gempa, masing-masing berada di Ruteng dan Ngada.
Selain memberikan pelayanan medis, TCK juga akan memberikan pendampingan psikososial, terutama kepada anak-anak dan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.
Sumarjaya menjelaskan, bencana gempa dapat menimbulkan berbagai persoalan kesehatan. Selain luka dan patah tulang, masyarakat juga dapat mengalami tekanan psikologis akibat kehilangan harta benda maupun pengalaman menghadapi bencana.
“Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak,” katanya.
Dokter Diminta Siapkan Fisik dan Mental
Dokter umum TCK, dr. Shaldy Syifa Azzahri, mengatakan para tenaga kesehatan telah melakukan berbagai persiapan sebelum diberangkatkan ke lokasi bencana. Persiapan tidak hanya mencakup peralatan dan bahan kesehatan, tetapi juga kondisi fisik dan mental masing-masing personel.
“Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain,” kata Shaldy.
Menurut dia, penanganan pascagempa tidak cukup hanya dengan memulihkan kondisi fisik korban. Setelah beberapa pekan berlalu sejak bencana, pemulihan kesehatan psikologis juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan masyarakat.
“Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kita harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kita membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Rayhendra Hanif, dokter umum TCK asal Padang, mengaku telah mempersiapkan kondisi mental dan berbagai kebutuhan pribadi, termasuk obat-obatan yang diperlukan selama menjalankan tugas.
Keikutsertaannya sebagai TCK juga dilatarbelakangi pengalaman pribadi menghadapi bencana gempa. Rayhendra pernah mengalami gempa bumi di Padang pada 2009 saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Pengalaman tersebut membuatnya terdorong untuk membantu masyarakat NTT yang menghadapi kondisi serupa.
“Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa,” ungkap Rayhendra.
Masa Tugas TCK Selama 14 Hari
Dalam pelaksanaannya, penugasan TCK mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel.
Penempatan tenaga kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan dan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026. Masa tanggap darurat tersebut dapat diperpanjang sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Selain memperkuat layanan psikososial, TCK juga membantu perawatan pasien pascaoperasi. Sebelumnya, Kemenkes telah mengerahkan sejumlah dokter spesialis, termasuk dokter spesialis ortopedi dan bedah, untuk menangani pasien yang membutuhkan tindakan operasi.
Kemenkes Perkuat Surveilans Cegah KLB
Kemenkes juga memperkuat surveilans kesehatan di wilayah terdampak gempa. Langkah ini dilakukan untuk memantau dan mengidentifikasi potensi munculnya penyakit menular pascabencana.
Surveilans tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) maupun wabah di wilayah terdampak.
“Tim kita surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” tandas Sumarjaya.
Kemenkes memastikan dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT terus dilakukan. Dukungan tersebut mencakup penguatan tenaga kesehatan, pelayanan medis, pemulihan psikologis, hingga pemantauan potensi penyakit menular pascabencana. (M-011)
- Editor: Daton

