Kejahatan Ada di Sekitar Kita, dan PR Kapolda Bali

Agustinus Apollonaris Klasa Daton

Kejahatan, suatu yang normal di dalam masyarakat. Namun demikian manusia punya akal budi mencegah. Salah satunya adalah dengan mendesain lingkungan untuk mencegah kriminalitas. Dua faktor penting yang mempengaruhi tindakan kriminalitas adalah keadaan lingkungan dan keadaan internal organisasi/komunitas kriminal yang saling mempengaruhi satu sama lain. Tindakan  kriminal datang tidak hanya dari niat atau motif pelaku melainkan juga karena ada kesempatan yang biasanya dipengaruhi kondisi lingkungan.

Ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju. Istilah seperti Crime Prevention Through Enviromental Design ( teknik mengurangi atau menghilangkan rasa takut dan kejahatandengan pengawasan lingkungan) sudah ada hampir setengah abad lalu. Para pemikir dan pakar perkotaan sudah mengembangkan penataan kota dengan desain mencegah kriminalitas, desain kota yang memungkinkan adanya pengawasan alamiah. 

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Asep Adi Saputra mengatakan, peningkatan angka kejahatan selama masa pandemi corona sekitar 11,8 persen.

Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Reza Indragiri dalam diskusi di televisi dalam suatu kesempatan mengatakan, keterbatasan gerak masyarakat banyak yang tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab orang berbuat kriminal.  Rasa frustasi itulah memicu seseorang untuk melakukan tindak kekerasan dan kejahatan.Teori Frustrasi Agresi Klasik  “Orang yang frustrasi bisa melakukan kompensasi dengan jalan agresi, kekerasan, dan kejahatan,” (Dollard dan Miller) pakar psikologi

Halaman 2 dari 4
Scroll to Top