Kasasi, Sudikerta Keok Lagi, Dihukum Enam Tahun Penjara

Ketut Sudikerta saat menjalani sidang di PN Denpasar

DENPASAR, MENITINI.COM – Pupus sudah harapan,  I Ketut Sudikerta, mantan Wakil Gubernur Bali untuk melepas status sebagai terpidana kasus penipuan dan Tindak Pidana Pencucian Uang,  (TPPU),  yang merugikan bos Maspion Grup, Alim Markus   Rp150 miliar.  

Mahkamah Agung (MA) dalam putusan kasasi memperkuat putusan Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar yang menjatuhkan hukuman 6 tahun penjara ditambah denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan kepada pria berusia 53 tahun ini.

Kasi Pidum Kejari Denpasar, I Wayan Eka Widanta yang ditemui Senin (24/8) mengatakan, pihaknya memang belum menerima putusan resmi dari MA terkait putusan mantan Wagub Sudikerta tersebut. Namun dari website MA sudah dirilis putusannya. ”Putusannya menolak kasasi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan menolak kasasi yang diajukan terdakwa Sudikerta. Berarti putusannya menguatkan putusan PT Denpasar yaitu enam tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan,” tegas Eka.

Dalam kasasi yang diajukan, JPU memohon kepada majelis hakim MA menjatuhkan hukuman kepada terdakwa I Ketut Sudikerta sesuai tuntutan sebelumnya yaitu hukuman 15 tahun penjara  dan denda Rp 5 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sementara dalam kasasi yang diajukan terdakwa melalui kuasa hukumnya, Suryatin Lijaya dkk memohon supaya terdakwa Sudikerta dibebaskan dari seluruh dakwaan.

BACA JUGA:  Di Rusia Hampir 10 Ribu Orang Positif Covid-19 per Hari Ini

Terkait putusan ini, Eka Widanta belum bisa memberikan komentar apapun terkait langkah yang akan dilakukan karena masih akan menunggu putusan resmi dari MA. “Kita tunggu saja putusan resminya,” ujarnya singkat.

Seperti diketahui, Sudikerta yang divonis 12 tahun penjara  dan denda Rp5 miliar subsider 4 bulan penjara di PN Denpasar resmi mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar. Dalam putusan banding di tingkat PT, hukuman Sudikerta turun menjadi 6 tahun penjara. Tidak hanya itu, pidana denda Rp5 miliar juga turun menjadi Rp500 juta, subsider 3 bulan kurungan. Jaksa Penuntut Umum lalu melakukan upaya hukum kasasi ke MA.

Sementara itu, kasus yang menjerat Sudikerta bersama AA Ngurah Agung dan Wayan Wakil (terpidana dalam berkas terpisah) berawal tahun 2013 saat PT Maspion Group melalui anak perusahaannya, PT Marindo Investama, ditawari tanah seluas 38.650 meter persegi (SHM 5048/Jimbaran) dan 3.300 meter persegi (SHM 16249/Jimbaran), yang berlokasi di Pantai Balangan, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung oleh terdakwa Sudikerta.

BACA JUGA:  Polisi Amankan Ambulans Parpol Berisi Batu dan Sita Amplop Dari Pelaku Aksi di Brimob KS Tubun

Tanah ini disebutkan berada di bawah perusahaan PT Pecatu Bangun Gemilang, di mana istri Sudikerta, Ida Ayu Ketut Sri Sumiantini, menjabat selaku Komisaris Utama. Sementara Direktur Utama PT Pecatu Bangun Gemilang dijabat Gunawan Priambodo.  Setelah melewati proses negosiasi dan pengecekan tanah, akhirnya PT Marindo Investama tertarik membeli tanah tersebut seharga Rp 150 miliar. Transaksi pun dilakukan akhir tahun 2013. Nah, beberapa bulan setelah transaksi, barulah diketahui kalau SHM 5048/Jimbaran dengan luas tanah 38.650 meter persegi merupakan sertifikat palsu. Sedangkan SHM 16249 seluas 3.300 meter persegi, sudah dijual lagi ke pihak lain. Akibat penipuan ini, PT Marindo Investama milik korban Alim Markus mengalami kerugian Rp 150 miliar.  dik/pol

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*