MENITINI.COM – Upaya menjaga kelestarian hutan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat adat mempertahankan lingkungan. Penguatan ekonomi masyarakat juga menjadi faktor penting agar mereka tetap memiliki sumber penghidupan tanpa harus mengalihfungsikan kebun menjadi perkebunan kelapa sawit.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat yang digagas Yohana Tamara di Kalimantan Barat. Melalui pembelian biji kakao langsung dari pekebun dan pendampingan bersama organisasi lokal, Kalara berupaya menghidupkan kembali kebun kakao masyarakat adat yang selama ini terbengkalai karena kesulitan memasarkan hasil panen.
“Kami tidak ingin kebun telantar itu berubah menjadi kebun kelapa sawit,” kata Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo yang juga merupakan bagian dari masyarakat adat Dayak Iban.
Menurut Yessy, masyarakat adat selama ini memiliki peran penting dalam menjaga hutan. Namun, kebutuhan ekonomi keluarga, termasuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari, tetap harus dipenuhi.
“Masyarakatnya, oke, mereka jaga hutan. Tapi mereka dapat uang dari mana?” ujarnya.
Cerita mengenai upaya menghubungkan pelestarian hutan dengan penguatan ekonomi masyarakat tersebut dibagikan Yessy dalam Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, Oktober lalu.
Dalam kegiatan itu, Koalisi Ekonomi Membumi menggagas Paviliun Ekonomi Berbasis Alam yang mempertemukan pelaku usaha dan komunitas dengan pendekatan ekonomi yang menjadikan alam sebagai fondasi penghidupan.

