Kaki Palsu dari Sampah Plastik, Ini Penjelasan YKKS

DENPASAR,MENITINI.COM-Mungkin masih banyak orang belum menyadari, bahwa saat ini sampah telah menjadi permasalahan dunia, termasuk juga di Indonesia. Di Bali sendiri beberapa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah tidak mampu lagi menampung sampah, sehingga bisa dilihat di pinggir-pinggir jalan bungkusan sampah menumpuk dengan berbagai macam jenis, dicampur aduk. Padahal dalam Peraturan Gubernur Bali Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019, telah diatur pengelolaan sampah berbasis sumber, warga wajib memilah sampahnya dari rumah.

Ketua Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS) Gede Adit, dalam paparan di acara HUT ke-89 RSU Negara, Jembrana, Jumat (15/12/2023) menuturkan, setiap orang akan menghasilkan sampah sebanyak sepertiga kilogram.

“Berarti kalau ada satu juta orang, maka akan menghasilkan sampah ratusan kilogram,” ujar Adit yang sehari-harinya sibuk mengolah sampah menjadi produk bernilai seperti kaki palsu, kacamata, sisir rambut, papan LJK (tatakan menulis), serta papan sebagai bahan kursi dan meja itu.

Adit menuturkan, hanya dengan memilah dan membuang sampah pada tempatnya saja masih belum efektif dalam mengatasi permasalahan sampah. Untuk itu, pihaknya dengan unit di YKKS yang bernama Karfa mengolah sampah menjadi berbagai produk yang bernilai sosial, ekonomi dan lingkungan.

BACA JUGA:  Dukung Pelestarian Jegog dan Kawasan Hutan, Bupati Jembrana Tanam Bibit Bambu Petung

“Dengan konsep ini, kami memiliki beberapa impek, bukan hanya mengolah sampah tetapi berdampak pada lingkungan maupun kesehatan,” ujar Adit sambil menambahkan di Karfa dalam pengolahan sampah itu memberdayakan 8 orang tenaga disabilitas.

BACA JUGA: Peringati Hari Disabilitas Internasional, YKKS Gelar Perayaan dan Beri Bantuan Kaki Palsu Warga Toli Toli Sulteng

YKKS sendiri memiliki tiga program utama, yaitu merawat luka diabetes, membuat kaki palsu dan mendaur ulang sampah plastik. Indonesia, kata Adit adalah negara nomor lima terbesar di dunia dengan panyakit diabetes. Bahkan dalam pengalamannya menangani pasien diabetes, penderita termuda berusia 26 tahun. Oleh karena itu ia mengestimasi bahwa umur 20 tahunan sudah bisa menderita diabetes. Dan yang lebih menakutkan karena sebanyak 15 hingga dengan 30 persen orang yang menderita diabetes beresiko mengalami amputasi.

“YKKS dengan kaki palsunya bagaikan angin segar bagi orang-orang yang harus mengalami amputasi itu,” kata Adit.

BACA JUGA:  Alam Ganjar dan Pasukan Tim Penguin Bersih-bersih Sampah Plastik

Dalam acara HUT RSU Negara yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube RSU Negara itu, Adit juga mengatakan, bahwa kaki palsu yang dibuat pihaknya telah digunakan oleh beberapa orang, baik dari Bali sendiri maupun daerah lain seperti pulau Madura. Yang terbaru adalah pemberian kaki palsu kepada warga Toli Toli Sulawesi Tengah, saat perayaan hari Disablitas yang digelar di Workshop Karfa, Banjar Kelod, Desa Bengkala, Buleleng, Senin (4/12/2023) lalu.

“Kami lakukan adalah membuat kaki palsu dari sampah plastik. Proses kaki palsu dari sampah plastik yang dihasilkan telah digunakan oleh pasien YKKS,” ujar Adit.

Sementara untuk membuat papan sebagai bahan untuk membuat meja dan kursi, dan produk bernilai lainnya, sampah plastik harus dicairkan pada suhu 250 derjat celcius. Dengan suhu setinggi itu diharapkan bakteri juga bisa hilang, sehingga produk-produk yang dihasilkan menjadi higienis.

“Ini dari dari tutup tobol Aqua,” sebut adit dengan menunjukkan papan dari hasil olahan sampah plastik. Kata Adit utup botol mineral bisa diolah menjadi papan sebagai bahan proudk bernilai itu.

BACA JUGA:  Sosialisasi Rencana Pembangunan TPST Sangeh, Jika Timbulkan Bau akan Langsung Ditutup

Selanjutnya Adit mengatakan dengan mengolah sampah menjadi produk, akan terjadi circular ekonomi. “Kita tidak bisa mengumpulkan sampah, lalu dibuat menjadi barang. Hanya seperti itu saja masih belum bisa,” kata Adit. Dari sampah menjadi barang, tahapan selanjutnya adalah terjual dengan harga yang sesuai.

“YKKS pernah mengirim satu unit meja dan kursi ke sebuah restoran di singapura, sampah yang awalnya tidak memiliki nilai itu bisa kita jadikan produk sebuah meja dan kursi yang kita kirim ke restoran di luar negeri,” ungkap Adit.

Dengan meningkatnya value sampah tersebut otomatis kepedulian masyarakat terhadap sampah akan meningkat. “Saya yakin sampah yang ada di sini, bapak ibu tidak akan peduli, sampah akan diapakan? Karena kita tau ini sampah akhirnya akan diolah menjadi apa?,” tanya Adit kepada para hadirin HUT RSU Negara itu.

Adit mengharapkan dengan dibukanya Bank Sampah RSU Negara, maka pengelolaan sampah dapat dengan lebih baik sehingga sampah bisa direcycle menjadi produk-produk yang bermanfaat untuk rumah sakit. (M-011)