Ia menambahkan, di tengah dinamika geopolitik global, dunia tidak boleh kehilangan momentum untuk menjaga target pembatasan kenaikan suhu global di angka 1,5 derajat Celsius.
Urgensi penguatan kerja sama iklim juga tercermin dari kondisi di dalam negeri. Hanif menyinggung bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan menimbulkan dampak besar bagi masyarakat.
“Bencana hidrometeorologi baru-baru ini di Sumatra sangat menghancurkan. Lebih dari 1.000 orang kehilangan nyawa akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan ratusan lainnya masih hilang dan ratusan ribu orang mengungsi,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total kerugian akibat bencana tersebut mencapai lebih dari USD 3,1 miliar. Kondisi ini, menurut Hanif, menegaskan pentingnya penguatan analisis risiko iklim, sistem peringatan dini, serta kapasitas kesiapsiagaan nasional.
Dalam pembahasan solusi, Indonesia menyoroti pentingnya penerapan solusi berbasis alam atau nature-based solutions (NbS) sebagai bagian dari respons perubahan iklim. Pendekatan ini dinilai memberikan manfaat ganda, mulai dari adaptasi dan mitigasi iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga penguatan ketahanan masyarakat.









