JAKARTA,MENITINI.COM – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta tahun ini tak sekadar menghadirkan kemeriahan pawai dan karnaval budaya. Di balik semarak kegiatan yang berlangsung dari kawasan Monumen Nasional (Monas) hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), terselip pesan solidaritas untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi.
Pawai dan karnaval budaya yang digelar pada Senin (17/8/2026) itu menjadi momentum bagi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Kementerian Kehutanan untuk menyampaikan pesan kepedulian terhadap sesama sekaligus mengajak masyarakat memperkuat kesadaran menjaga lingkungan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLH/BPLH, Yulia Suryanti, menyampaikan duka mendalam atas musibah gempa yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026.
“Pertama ya, kita turut berduka atas bencana yang melanda saudara-saudara kita di NTT. Kita akan berupaya untuk membantu sebisa kita, termasuk juga pada saat kita bicara nanti terkait dengan pemulihan lingkungan yang terkena dampak di sana,” ujar Yulia.
Menurut dia, bencana yang terjadi di NTT merupakan ujian bersama bagi seluruh elemen bangsa. Semangat persatuan dalam peringatan kemerdekaan pun dinilai harus diwujudkan melalui kepedulian dan aksi nyata, termasuk membantu pemulihan lingkungan di wilayah yang terdampak bencana.
Bawa Pesan Tobat Ekologis
Selain menyampaikan solidaritas untuk NTT, kehadiran KLH/BPLH dalam pawai juga membawa misi edukasi lingkungan. Masyarakat diajak melakukan perubahan perilaku dan mengambil langkah nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Karnaval ini memang kita tujukan untuk mendiseminasikan informasi kaitannya dengan apa yang perlu kita lakukan bersama-sama untuk menjaga lingkungan hidup. Jadi kita juga penting untuk tobat ekologis, di mana kita harus menyadari selama ini kita salah apa, kemudian kita juga berjanji tidak akan mengulangi, dan aksi apa yang perlu kita lakukan,” kata Yulia.
Pesan yang disampaikan kepada masyarakat mencakup pengelolaan sampah sejak dari hulu, upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), hingga pemulihan ekosistem.
Dalam pawai tersebut, terdapat tiga pesan utama yang diusung, yakni perencanaan hukum lingkungan, pemulihan ekologi, serta pengendalian dampak lingkungan.
Pesan edukasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat yang menyaksikan pawai. Salah satunya Dian Putri, warga Tangerang yang datang bersama anak laki-lakinya untuk menyaksikan rangkaian pawai dari Monas hingga Bundaran HI.
“Acara ini edukatif sekali, bagus banget buat anak-anak belajar mengenal pentingnya menjaga lingkungan sejak dini, mulai dari urusan sampah sampai merawat alam. Jadi perayaan kemerdekaan ini terasa jauh lebih bermakna,” ujar Dian.
Ia juga menyampaikan dukungan dan doa bagi masyarakat NTT yang tengah menghadapi dampak bencana.
“Kami dari Tangerang ikut berduka yang mendalam untuk saudara-saudara kita di NTT. Semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan bisa segera bangkit kembali bersama seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Sinergi KLH dan Kementerian Kehutanan
Pesan solidaritas dan pelestarian lingkungan juga diperkuat oleh perwakilan Direktorat Penindakan Pidana Kehutanan Kementerian Kehutanan, Zaki Indra Winarto.
Zaki mengapresiasi sinergi antara Kementerian Kehutanan dan KLH/BPLH yang turut menjadikan momentum peringatan kemerdekaan sebagai sarana menyampaikan pesan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati kepada masyarakat.
Ia pun turut menyampaikan dukungan kepada masyarakat NTT yang terdampak gempa.
“Untuk teman-teman yang mengalami duka dan musibah di NTT, kami berharap semoga dapat segera bangkit, dan keluarga yang mengalami kerugian, baik secara moral, material, maupun kehilangan nyawa, diberikan ketabahan,” ujar Zaki.
Menurutnya, semangat kemerdekaan harus mampu memberikan kekuatan bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
“Semoga makna kemerdekaan ini bisa menularkan kekuatan bagi teman-teman di NTT agar segera bangkit kembali. Yang pasti, hutan akan tetap lestari dan Indonesia akan terus berseri,” pungkasnya.
Pawai budaya HUT ke-81 RI dari Monas hingga Bundaran HI akhirnya tidak hanya menjadi ruang perayaan kemerdekaan, tetapi juga panggung untuk menyampaikan pesan gotong royong, kepedulian terhadap korban bencana, serta ajakan menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. (M-011)
- Editor: Daton

