JAKARTA,MENITINI.COM – Pemerintah menegaskan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama 2026 tetap kuat dan stabil meski dihadapkan pada dinamika global. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai rapat kerja pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Airlangga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini diperkirakan masih berada di atas 5,5 persen. Angka tersebut, menurutnya, sejalan dengan pandangan Menteri Keuangan yang turut memaparkan kondisi ekonomi terkini dalam rapat tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama masih baik, bahkan berpotensi mencapai lebih besar atau sama dengan 5,5 persen,” ujarnya kepada awak media.
Ia menjelaskan, kinerja positif tersebut didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang tetap solid, khususnya dari sisi konsumsi rumah tangga. Konsumsi disebut menyumbang sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga menjadi penopang utama pertumbuhan.
Dari sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menunjukkan kinerja yang kuat. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat meningkat 14,3 persen atau mencapai Rp462,7 triliun. Selain itu, sektor manufaktur juga dilaporkan berada dalam fase ekspansif.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyoroti kondisi ketahanan pangan nasional yang dinilai tetap terjaga. Produksi beras pada 2025 mencapai 34,7 juta ton, sementara stok beras yang dikelola Bulog saat ini berada di level 4,6 juta ton.
Meski berbagai indikator menunjukkan tren positif, pemerintah tetap menyiapkan langkah strategis guna menjaga momentum pertumbuhan. Salah satu kebijakan yang akan diimplementasikan adalah program biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026.
Program tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan ketahanan anggaran negara melalui efisiensi hingga Rp48 triliun.
Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan komitmennya dalam menjaga disiplin fiskal. Rasio utang akan dipertahankan di kisaran 40 persen, jauh di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 60 persen. Sementara itu, defisit anggaran dijaga di level 3 persen hingga akhir tahun.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. (M-011)
- Editor: Daton









