Buleleng hingga Nusa Penida Diprakirakan Paling Rentan Kekeringan Saat Kemarau 2026

Ilustrasi kemarau
Ilustrasi kemarau. (Freepik)

DENPASAR,MENITINI.COM-Sejumlah wilayah di Bali diprakirakan menghadapi potensi kemarau ekstrem pada 2026 akibat pengaruh fenomena El Nino yang diprediksi membuat musim kering berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali menyebutkan daerah yang paling berpotensi mengalami kekeringan panjang antara lain wilayah Bali bagian utara seperti Kabupaten Buleleng dari barat hingga timur, Pulau Nusa Penida, serta wilayah selatan Kabupaten Klungkung.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali, Trayi Budi Samantu, mengatakan fenomena El Nino dengan intensitas lemah diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga Oktober 2026 dan berpotensi memicu kemarau yang lebih ekstrem.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan durasi kemarau lebih panjang di sejumlah daerah di Pulau Dewata, terutama kawasan yang secara geografis memang lebih kering.

Musim kemarau di Bali juga diprediksi datang lebih awal. Berdasarkan analisis BMKG, kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Dasarian I Maret 2026 yang lebih dahulu dirasakan di Pulau Nusa Penida.

BACA JUGA:  Konflik Timur Tengah Picu Pembatalan Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali

Selanjutnya pada Dasarian II Maret, musim kemarau mulai meluas ke wilayah selatan Kabupaten Gianyar, Klungkung bagian selatan, serta Karangasem bagian selatan.

BMKG memprakirakan wilayah Bali bagian tengah menjadi daerah yang terakhir memasuki musim kemarau. Secara keseluruhan, seluruh wilayah Bali diperkirakan telah berada dalam periode kemarau pada Agustus 2026.

Dengan demikian, durasi musim kemarau tahun depan diperkirakan mencapai sekitar enam bulan sejak Maret, lebih panjang dibandingkan kemarau 2025 yang hanya berlangsung sekitar empat bulan, yakni dari Juni–Juli hingga Agustus–September.

Sementara itu, suhu udara selama musim kemarau diperkirakan masih berada dalam kisaran normal, yakni di bawah 35 derajat Celsius. Meski begitu, BMKG akan terus memantau perkembangan suhu secara berkala melalui pemantauan dasarian dan bulanan.

Kepala Stasiun Klimatologi Bali Aminudin Ar Roniri menambahkan sekitar 65 persen atau 13 Zona Musim (ZOM) di Bali diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.

BACA JUGA:  BBMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Ekstrem di Bali 24–26 Februari

Selain itu, sekitar 15 persen atau tiga ZOM diperkirakan memiliki waktu kemarau yang sama dengan tahun lalu, sementara 20 persen atau empat ZOM justru mengalami kemarau yang datang lebih lambat.

Ia menjelaskan sifat musim kemarau 2026 di Bali diprediksi berada di bawah kondisi normal dengan persentase mencapai 90 persen, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah.

Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, pelaku usaha, serta masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi sejak dini, seperti pengelolaan sumber daya air, penghematan penggunaan air, pengaturan distribusi air untuk irigasi, serta mengantisipasi potensi kekeringan dan kebakaran lahan. (M-003)

  • Editor: Daton
Iklan

BERITA TERKINI

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top