Beli Ferari Seharga Rp11,6 Miliar, Pria Ini Jual Rp6 Miliar Buat Beli Sembako

Ajik Cok Krisna Pemilik Krsina Ole Ole

DENPASAR, MENITINI.COM–  Sepinya turis ke Bali akibat tutupnya penerbangan sebagai dampak pandemi Covid-19, menyebabkan sejumlah bisnis pariwisata di Bali mati suri.

Dampak itu juga dirasakan Krisna Holding Company. Di mana pemilik usaha ini terpaksa menjual salah satu aset-nya, yaitu mobil sport besutan pabrikan Italia, yakni Ferrari.

Owner Krisna Holding Company, Gusti Ngurah Anom menuturkan, mobil itu terpaksa dilego untuk menutupi biaya operasional perusahaannya, dan termasuk untuk membeli sembako bagi 2 ribuan karyawannya.

Ditemui usai mengikuti deklarasi Komunitas Pemuda Milenial Bali (KPMB) untuk mendukung pariwisata di era new normal yang berlangsung di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi Renon, Denpasar, ia menuturkan Ferrari yang ia beli seharga Rp 11,5 miliar itu, dijual dan laku Rp 6 miliar.

BACA JUGA:  Puluhan Pelaku Bisnis Wisata Minta Beroperasi, Dinas Pariwisata: Lengkapi Dokumen New Normal Tourism

“Memang situasi kemarin, Krisna tutup di bulan Maret. Dan kami tidak habis pikir kaget dengan pandemi ini. Begitu tutup di bulan Maret, saya pikir ini tidak akan lama lagi pandemi ini akan berakhir. Tapi buktinya kan hingga hari ini belum berakhir,” cerita Ajik Cok Krisna sapaannya seperti dikutip POS MERDEKA.COM, Minggu (2/8).

Ajik Cok Krisna menambahkan, begitu memasuki bulan kelima, pemasukan perusahaannya terganggu. Dirinya yakin keadaan ini juga terjadi dialami pengusaha lain. “Jadi begitu masuk ke bulan kelima, mau tidak mau saya harus jual mobil. Jadi akhirnya saya putuskan jual Ferrari, dan memang harga jualnya ya harga covid. Karena kalau harga standar jika tidak terjadi covid harganya Rp 7,5 miliar. Jadi di kondisi covid, apa yang paling mudah dijual ya hanya mobil,” ujarnya.

BACA JUGA:  Buka GPDRR, Presiden Jokowi Paparkan Keberhasilan Tangani Kartahula dan Covid-19

Kendati ia punya aset lainnya, seperti tanah dan rumah, tidak mungkin bisa dijual sesegera mungkin di tengah pandemi. Sehingga dirinya memutuskan untuk menjual mobil sport berlambang kuda jingkrak itu.  “Tujuan saya jual Ferrari, satu saya ingin membantu cash flow ke perusahaan saya, seperti bayar listrik dan perbankan. Kedua untuk keberlangsungan karyawan saya yang dirumahkan. Karena 2 ribuan karyawan saya, belum lagi yang punya anak istri, itu yang saya pikirkan,” bebernya seraya mengucap syukur, bahwa selama empat bulan masa pandemi ini, sembako untuk karyawannya tetap jalan.

Pihaknya pun berharap, pasca dibukanya pariwisata domestik di 31 Juli kemarin, bulan Agustus pariwisata berjalan perlahan-lahan menuju normal seperti sebelum adanya pandemi ini. “Bulan Agustus ini, karyawan Krisna sudah mulai dipekerjakan kembali, namun secara bertahap step by step,” tandasnya.

BACA JUGA:  7 Faktor Penentu Keberhasilan Resolusi Diet

Saat ditanya  tidak menyesal menjual Ferrari yang merupakan ikon dirinya? Ajik Krisna mengaku tidak ada penyesalan. “Saya sih tidak ada prestise bahwa itu Ferrari atau apa. Kebetulan di rumah lumayan banyak ada mobil. Namun satu-satunya yang bisa saya jual dengan harga tinggi ya Ferrari. Kalau misalnya saya jual Pajero ya mana cukup. Ferrari saya beli Rp 11,5 miliar,  jualnya hanya Rp 6 miliar. Kerugiannya kan separonya. Ya udalah, nanti kalau ada rezeki saya beli lagi. Tapi kalau melihat pandemi ini, profesi (hobby mobil sport-red) akan saya rubah. Aset atau mobil mewah yang saya punya akan saya rubah dan investasi ke pertanian,”katanya. poll

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*