Menariknya, sistem peringatan dini ini bukan produk komersial, melainkan hasil inovasi internal BPBD Bali. Perencanaan dimulai sejak November 2025, mulai dari perancangan konsep, perakitan alat, hingga uji coba lapangan.
“Kami sengaja mengembangkan sendiri agar lebih efisien dan sesuai kondisi lapangan. Setelah uji coba berhasil, kami berkoordinasi dengan PLN dan mendapat dukungan penuh, termasuk dari Forum Pengurangan Risiko Bencana,” kata Gede Teja.
Secara teknis, sensor dipasang di dalam aliran sungai untuk memantau kenaikan muka air, sementara sirine peringatan ditempatkan di atas permukaan. Sistem ini bekerja bertahap, dengan bunyi sirine berbeda sesuai level bahaya.
“Contohnya di Pasar Kumbasari, sirine pertama berbunyi saat air naik 30 sentimeter dari kondisi normal, peringatan kedua saat naik 86 sentimeter, dan sirine evakuasi berbunyi ketika kenaikan mencapai 150 sentimeter. Total kenaikan 266 sentimeter sudah masuk tahap evakuasi,” jelasnya.
Ambang batas tersebut disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi, sehingga tidak bersifat seragam di semua titik.









