“Bali harus mempercepat pemilahan sampah di rumah tangga, misalnya melalui penggunaan komposter, tebu modern, serta memperluas jaringan bank sampah. Kawasan wisata seperti hotel, restoran, dan kafe juga harus disiplin melakukan pemilahan agar sampah tidak menumpuk di TPA dan mencemari lingkungan,” jelasnya.
Dalam kunjungan kerjanya di Bali, Hanif juga meninjau sejumlah lokasi pengelolaan sampah berbasis sumber. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura 1 di Denpasar, Desa Kesiman Petilan di Denpasar, Desa Bongkasa Pertiwi di Badung, serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Pudak Mesari di Darmasaba, Badung.
Di sejumlah lokasi tersebut, ia melihat langsung praktik pemilahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di tingkat rumah tangga dan komunitas. Meski Bali telah menunjukkan sejumlah kemajuan, Hanif menilai masih ada tantangan besar yang perlu segera diselesaikan.
Menteri Hanif juga mengapresiasi dukungan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang memberikan bantuan alat wood chipper kepada Pemerintah Kabupaten Badung. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah di kawasan pariwisata.
“Saya berharap dukungan ini bisa meningkatkan kapasitas daerah dalam menangani persoalan sampah sehingga masalah sampah di Bali dapat diselesaikan lebih cepat,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, Bali diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berkelanjutan. Upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen dalam gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) untuk menjaga ekosistem pesisir tetap lestari. (M-011)
- Editor: Daton









