Ia menjelaskan, longsoran terbaru menyebabkan badan jalan jebol sepanjang kurang lebih 17 meter dengan lebar mencapai 8 meter. Saat ini, di sisi jalan hanya tersisa batu bronjong, namun bagian bawahnya juga sudah terkikis akibat debit air yang besar dari arah utara. Bahkan bahu jalan hingga pembatas jalan ikut ambles.
Menurut Yudiana, akses jalan berupa jembatan tersebut dibangun pada era 1980-an dengan konstruksi bagian bawah menggunakan tanah urug, sehingga rentan tergerus air. Kondisi ini membuat jalan tidak dapat dilalui sama sekali, termasuk oleh pejalan kaki.
“Untuk pejalan kaki saja sudah tidak berani melintas. Sama sekali tidak bisa dilewati,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, aparat setempat telah memasang plang larangan serta blokade dari bambu dan kayu di ruas jalan kabupaten tersebut. Pihak kepolisian bersama instansi terkait dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bangli juga telah melakukan pengecekan ke lokasi.









