750 Ribu Apa Cukup Untuk Konservasi Borobudur? Simak Faktanya!

Kenaikan tiker Borobudur untuk konservasi - TWC
Kenaikan tiker Borobudur untuk konservasi - TWC

DENPASAR, MENITINI.COM – Isu kenaikan tarif masuk kawasan konservasi Candi Borobudur terus muncul dalam pemberitaan. Bagi yang melek informasi, pasti menelaah dulu alasan dibalik kenaikan ini sebelum berkomentar. Sayangnya, banyak masyarakat kita yang buta literasi walau sudah mengenyam pendidikan dasar wajib. Berbeda dengan buta huruf, buta literasi berarti ketidakmampuan seseorang untuk memahami konteks wacana sebelum berkomentar. Informasi tentang kenaikan tiket Borobudur menjadi Rp750.000 buru-buru digoreng media tanpa memastikan ketentuan dan alasan. Tentu saja hal seperti ini cepat menjadi konsumsi masyarakat Indonesia yang cocoklogi.

Bukan sekedar media cocoklogi, redaksi ingin mengulas mendalam seputar kenaikan tiket Borobudur. Upaya konservasi apa yang diperlukan? Apa saja isu konservasi tahunan dalam perawatan situs Borobudur? Dan yang paling penting, apakah 750ribu-mu itu cukup untuk membiayai konservasi situs yang berusia lebih dari 1200 tahun ini? Stop buta literasi, yuk simak fakta dari UNESCO World Heritage berikut!

BACA JUGA:  Belum Dilantik, Dua Strategi Sandiaga Uno Bangkitkan Pariwisata Terpuruk Akibat Pandemi Covid-19

Letak dan Struktur Candi Borobudur

Situs megalitik Borobudur, berdiri megah di atas dataran subur Kedu. Pembangunan candi selama masa pemerintahan dinasti Syailendra antara tahun 750 – 842 Masehi. Dari pusat kota Yogyakarta, terletak sekitar kurang lebih 42 km arah Magelang. Borobudur adalah salah satu monumen Buddha terbesar yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1991. Walau banyak sekali studi yang mengulik keberadaannya, tidak banyak jejak sejarah selain dari upaya pekerja dan pemahat yang membangun struktur bebatuan seluas 60,000 m³. Secara geografis, Borobudur dikelilingi oleh 4 gunung berapi aktif : Merapi, Sindoro, Merbabu dan Sumbing. Dugaan kuat, pondasi candi berasal dari material vulkanik keempat gunung ini. Meski tanpa semen untuk melekatkan satu dengan lainnya, arsitektur Borobudur membentuk struktur monolith yang halus.

BACA JUGA:  Persiapkan Destinasi Super Prioritas, Ini Arahan Luhut untuk Sandiaga

Susunan kerucut pada candi menggunakan konsep Meru untuk merepresentasikan kursi para dewa, dengan mandala, desain geometris simbol ritual dan spiritual. Pembagian vertikal Candi Borobudur sesuai dengan konsepsi alam semesta menurut kosmologi Buddha. Mereka meyakini bahwa alam semesta dibagi menjadi tiga bidang lapisan yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Ketiga bidang ini terwujud dalam dasar candi, lima teras persegi dan tiga pelataran melingkar beserta stupa besar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*