Woww, Dewi di Bali Meningkat Pasca Covid-19, Disparda Tak Batasi

Penglipuran Bangli
Foto Dokumen: Sejumlah wisatawan tampak mengunjungi Desa Penglipuran Bangli. (M-007)

DENPASAR,MENITINI.COM-Desa wisata (Dewi) di Bali terus berbenah. Bukan hanya kualitas, tetapi kuantitas desa wisata di Bali terus meningkat. Peningkatan terjadi justeru di era pasca pandemi Covid19. Artinya, jumlah desa wisata di Bali mengalami kenaikan di era kenormalan baru pascapandemi Covid-19. Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat, saat ini terdapat 238 Desa Wisata yang tersebar di seluruh Pulau Dewata. 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun saat dikonfirmasi, Kamis (24/11/2022) mengungkapkan, pada tahun 2019 Bali hanya memiliki 194 desa wisata. Namun data terakhir menunjukkan bahwa jumlah yang sudah terdaftar sebanyak 238 desa. Ada beberapa penyebab peningkatan jumlah desa wisata. Salah satunya adalah ketika Bali diterjang pandemi Covid19, banyak pelaku pariwisata pulang ke desanya dan bukan tidak mungkin mereka ingin mengembangkan desa wisata di kampungnya sendiri.  Di satu sisi, kata dia, pertumbuhan desa wisata di Bali berdampak pada bangkitnya ekonomi masyarakat pasca pandemi.

BACA JUGA:  Pergerakan Penumpang di Bandara Ngurah Rai Mei-Agustus Tembus Satu Juta Orang

“Di sisi lain, pemerintah atau dalam hal ini Dinas Pariwisata memiliki pekerjaan rumah baru untuk memberikan pendampingan kepada pengelola desa wisata,” katanya. 

Dijelaskan, pelatihan mutlak harus diberikan agar sumber daya manusia yang ada, memiliki kompetensi. Dia menambahkan dengan pelatihan yang diberikan, pengelolaan desa wisata akan lebih baik, berkualitas dan berkelanjutan.

“Tidak ada target khusus untuk jumlah desa wisata di Bali, biarlah desa wisata tumbuh secara alami sesuai karakteristik daerahnya masing-masing. Tugas kami memberikan dorongan atau pelatihan kepada sumber daya manusia yang ada,” ujarnya. 

Tjok Bagus menuturkan, perluasan kebijakan dari pemerintah pusat untuk mendongrak kembali ekonomi pariwisata Bali, juga diseimbangkan Pemprov Bali melalui berbagai kebijakan. Salah satunya, kata dia, penataan usaha-usaha pariwisata agar lebih beragam, atau membangun diversifikasi pariwisata. Dengan demikian, perekonomian Bali ke depan lebih sustain, atau berkelanjutan dan berimbang.

BACA JUGA:  Apa Lagi SMSI Bali dengan Kemenparekraf Terkait Dewi, Ini Penjelasan Emanuel Dewata Oja

Di situ, jelas dia, sektor pariwisata masih tetap mendominasi dengan angka sebesar 56,78%. Disusul sektor pertanian 9,24%, sektor kelautan/perikanan 4,21%, sektor industri 14,63% dan sektor lainnya. “Sektor yang masih terbuka peluang investasi mengarah pada pariwisata,” ujarnya.

Tjok Bagus mengatakan, selera wisatawan asing sangat berpengaruh terhadap pergeseran tren. Saat ini, destinasi pedesaan dengan pemandangan alam dan aktivitas masyarakat desa, justru menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

“Selain itu, budaya di suatu Desa Wisata hingga oleh-oleh berupa suvenir banyak dicari wisatawan mancanegara,” pungkasnya.  M-006