logo-menitini

Tiga Desa Wisata di Buleleng Wakili Bali di Ajang Best Tourism Village 2025 oleh UN Tourism

Screenshot_20250602-114158_Yahoo Mail


BULELENG,MENITINI.COM – Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pariwisata terus mendorong desa-desa wisata berprestasi agar mampu bersaing di tingkat internasional. Tahun ini, tiga desa wisata dari Buleleng terpilih mewakili Bali dalam ajang bergengsi Best Tourism Village (BTV) ke-V yang digelar oleh UN Tourism, badan pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tiga desa tersebut yakni Desa Les (Kecamatan Tejakula), Desa Sudaji (Kecamatan Sawan), dan Desa Pemuteran (Kecamatan Gerokgak). Ketiganya diusulkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai bagian dari 13 desa wisata yang akan mewakili Indonesia dalam ajang internasional ini.

“Keikutsertaan dalam ajang BTV ini diharapkan mampu meningkatkan daya tawar dan branding desa wisata di Buleleng, seperti halnya Desa Penglipuran dan Jatiluwih yang telah lebih dulu diakui dunia,” ujar Kepala Dinas Pariwisata BulelengGede Dody Suksma Oktiva Askara, Jumat (30/5).

BACA JUGA:  TPA Landih Belum Bisa Tampung Sampah Denpasar -Badung, Pemkab Bangli Pasang Syarat Ketat

Menurut Dody, proses seleksi BTV sangat ketat dan menuntut kesiapan data yang lengkap dan detail, seluruhnya dalam bahasa Inggris. “Format penilaiannya mirip dengan kompetisi ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia), hanya saja semua form menggunakan bahasa Inggris dan isian data lebih rigid,” jelasnya.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah dalam hal pengisian data administrasi desa wisata. Formulir BTV meminta data yang sangat rinci, seperti jumlah penginapan, total kamar, hingga profil karyawan berdasarkan jenis kelamin dan rentang usia.

“Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi kami, karena memperlihatkan pentingnya pengelolaan data secara sistematis di setiap destinasi,” ungkap Dody, yang sebelumnya menjabat sebagai Camat Buleleng.

Ia juga menyoroti perbedaan infrastruktur pengelolaan wisata di desa wisata Buleleng dibandingkan dengan desa seperti Jatiluwih di Tabanan. “Di Jatiluwih ada dua pos tiket yang memudahkan perhitungan jumlah kunjungan wisatawan. Sedangkan di Buleleng, wisatawan bebas masuk tanpa tiket sehingga sulit menghitung angka kunjungan secara akurat,” tambahnya.

BACA JUGA:  Pemprov Bali Minta Penutupan TPA Suwung Diundur hingga November 2026

Sebagai solusi, pihaknya telah mengusulkan revisi Perda terkait pajak distribusi daerah, agar sejumlah titik wisata seperti Pantai Tanjung Budaya dan Biorock Pemuteran diberlakukan sistem tiket masuk digital melalui e-ticketing. Dengan sistem ini, data pengunjung dapat tercatat secara otomatis dan lebih akurat.

Dody berharap, upaya ini membuahkan hasil manis dengan ditetapkannya salah satu desa wisata Buleleng sebagai Best Tourism Village 2025. “Formulir dari BTV ini bukan hanya sebagai alat seleksi, tapi juga menjadi panduan untuk mengidentifikasi potensi dan kelemahan desa wisata secara menyeluruh. Ini bisa menjadi pijakan untuk perbaikan tata kelola pariwisata desa di masa depan,” pungkasnya.

Iklan

BERITA TERKINI

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>