Jumat, 21 Juni, 2024
Situasi kepadatan penumpang di bandara internasional Ngurah Rai Bali, Sabtu (6/8/2022).

Foto dokumen: Situasi kepadatan penumpang di bandara internasional Ngurah Rai Bali, Sabtu (6/8/2022). (Foto: M-006)

BADUNG, MENITINI.COM– Kunjungan WNA Rusia ke Bali belakangan ini terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada Januari 2023, kunjungan wisatawan Rusia naik 12,19 persen atau sebanyak 22.104 orang.

Hal itu membuat negara Beruang Merah itu menempati posisi kedua, menggeser India ke posisi ketiga dengan 21.700 orang kunjungan wisata. Berkaca dari tingginya kunjungan wisatawan tersebut, sektor pengawasan dinilai perlu ditingkatkan. Sebab belakangan ini cukup banyak kasus yang terjadi oleh oknum WNA Rusia, termasuk yang menyalahi aturan keimigrasian dengan bekerja di Bali.

Menurut praktisi pariwisata Bali, Wayan Puspa Negara, jumlah kunjungan wisatawan Rusia memang mengalami peningkatan belakangan ini. Sebelum pandemi Covid-19 (tahun 2019), kunjungan wisatawan Rusia ke Bali menempati 10 besar jumlah kunjungan tertinggi.

Pasca pandemi, hal itu tumbuh fantastis menjadi 98 ribu jiwa dan pada awal Januari 2023 tercatat 22 ribuan jiwa. Hal itu membuat rusia menggeser posisi India di peringkat kedua. “Berkaca dari jumlah penduduk Rusia sebanyak 143.300.000 jiwa. Potensi kunjungan wisatawan Rusia sangat besar dan luar biasa. Rata-rata lama masa tinggal mereka 10 sampai 14 hari, dengan estimasi biaya perorang yang dikeluarkan sebesar Rp 52 juta. Ini tentu merupakan kabar baik bagi Bali,”katanya, Jumat (3/3).

BACA JUGA:  Usai Deportasi WNA India, Kanim Ngurai Rai Segera Usir WNA Rusia Setelah Bebas Dari Lapas

Menurutnya, wisatawan asal Rusia sangat merasa nyaman, damai dan senang dengan keunikan Bali. Sebab mereka menilai di Bali sangat damai. Hal itu berbeda dengan di negaranya, yang saat ini masih berkonflik dengan Ukraina. Kebanyakan wisatawan Rusia merupakan digital nomade yang tinggal di wilayah Canggu, Ubud, dan beberapa tempat lain sambil bekerja dari Bali.

Namun, belakangan ini cukup banyak wisatawan tersebut disinyalir bekerja di Bali dan beberapa kali terjerat kasus hukum maupun tibum trantibmas. Untuk itu pengawasan terhadap peningkatan kunjungan itu harus senantiasa dilakukan ketat.

Ia meminta pihak Imigrasi selaku pihak yang berwenang dan mengetahui izin dari wisatawan terkait, untuk bisa dilakukan sidak rutin dengan melibatkan tokoh maupun aparat terbawah. Apalagi di imigrasi ada Tim Pora yang memang memiliki tugas untuk mengawasi dan memantau hal tersebut.

BACA JUGA:  Reklamasi Bandara Berdampak Abrasi Kuta, Masyarakat Minta Segera Dibuatkan Ini

Sehingga peningkatan kunjungan itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukannya justru datang untuk bekerja di Bali. “Pengawasan menjadi hal yang sangat penting ditengah trend peningkatan. Karena ini merupakan wujud kontrol dalam menjaga kualitas maupun kuantitas pariwisata kita,” tegasnya.

Terpisah, berdasarkan informasi yang diperoleh Trantib Kecamatan Kutsel. Sejumlah gangguan tibumtranmas sempat terjadi yang melibatkan unsur WNa Rusia. Baik itu sebagai pelaku, pelapor, maupun korban. Seperti adanya WNA Rusia yang memukul pasangannya, tidur di bale sake enem di dalam pekarangan warga, dan terbaru adalah membuat petisi karena merasa terganggu dengan suara ayam aduan milik warga yang berkokok di halaman pekarangan warga.

Petisi itu ditandatangani oleh belasan WNA Rusia yang menginap di sebuah villa depan rumah warga. “Memang di sana ada warga yang memelihara ayam jantan. itu lokasinya berseberangan dari akomodasi wisata tempat bule menginap. Total ayam itu sebanyak 7 ekor. Warga pemilik ayam bukan peternak, tapi warga itu senang pelihara ayam,” kata Kasi Trantib Kecamatan Kutsel, Kadek Alit Juwita.

BACA JUGA:  Jelang Gelaran WWF, Menparekraf Undang Stakeholder Pariwisata Bali Bahas Isu Pariwisata Terkini

Ia mengaku sudah coba mengkomunikasikan keluhan yang muncul. Namun ayam tersebut tidak berada di dalam akomodasi, melainkan di area rumah warga. “Ayam berkokok merupakan hal yang alami. Pihak pemilik rumah sendiri sudah cukup lama memelihara ayam tersebut,” ujarnya M-003

  • Editor: Daton