Potensi Ekspor Mebel dan Kerajinan Bali Sangat Tinggi

Endro Wardoyo saat memberi sambutan pada workshop yang digelar DPP Asmindo di Denpasar Jumat (5/4).

DENPASAR, MENITINI.COM – DPP Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo) bekerjasama dengan FAO, Uni Eropa, dan Kementerian Perdagangan menggelar Worskshop sehari di Denpasar, Jumat (5/4). Workshop yang dikuti kurang lebih 50 peserta dari Klaten, Jogja dan Bali ini mengusung tema Strengthening the Compliance and Participation of  Indonesia Furniture and SMEs in Legal Production and Trade .

Ketua Bidang Organisasasi DPP Asmindo, Endro Wardoyo mengatakan,  kegiatan ini merupakan rangkaian program Asmindo di tiga kota untuk memperkuat pendampingan UKM-UKM di Indonesia khususnya di bidang mebel dan kerajinan. “Kalau saya mendengar pemaparan dari  Dinas Perdagangan Provinsi Bali, ekspor kerajinan kayu nomor tiga, furniture nomor enam. Dan pasar ekspor ke  Amerika. Ini menunjukan potensi ekspor mebel dan kerajinan di Bali sangat tinggi. Namun para pengrajin Bali enggan melengkapi diri dengan Sistem dan Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK),” kata Endro Wardoyo usai memberi sambutan mewakili Ketua DPP Asmindo.

BACA JUGA:  Dua Direktur PLN Pusat Positif Covid-19 usai Dampingi Menteri Luhut di Bali

Selain itu, lanjutnya, sebagai destinasi wisata,  Bali punya potensi yang sangat besar untuk menggelar event-event pameran berskala internasional untuk mebel dan kerajinan. “DPP sudah merancang, mudah-mudahan tahun ini, Bali akan menjadi venue pameran mebel dan kerajinan internasional. Tentunya dukungan dan support dari pemerintah pusat, khususnya pemerintah daerah Bali. Di Jogja dan Surabaya sudah. Semoga tahun ini bisa kita gelar pameran mebel dan kerajinan internasional di Bali,” ucapnya menjelaskan untuk mendatangkan buyer dan promosi itu menjadi tanggungjawab Asmindo. “Sedang pemerintah daerah menyiapkan tempat dan mengumpulkan para pengrajin agar berada dalam satu wadah sehingga memudahkan untuk kordinasi dan komunikasi,”kata Endro

Sementara Ketua Asmindo Komda Bali, Pidekso mengatakan, pemerintah kurang mendorong UKM-UKM mebel dan kerajinan untuk pameran keluar. “Dari pengalaman-pengalaman saya, memang pemerintah kurang mendorong para pengrajin untuk pameran dan promosi keluar. Selalu terlontar dari para pengrajin, Bali market besar, kenapa mesti kita pameran keluar, Kata kata ini selalu muncul dari para pengrajin. Selain itu para pengrajin enggan mengurus  SVLK,” kata Pidekso.

BACA JUGA:  BERITA TERKINI: Jabodetabek Dipertimbangkan Ditutup Total Alias Lockdown

Untuk itu, lanjutnya, ke depan Bali perlu memikirkan UKM center untuk menjadi tempat berkumpulnya para pengrajin, sehingga bisa menjadi one stop shopping bagi wisatawan. “Dengan adanya UKM Center, buyer tak perlu lagi memakai pihak ketiga, tapi langsung bertransaksi dengan pengrajin. Makanya perlu dukungan dan support dari pemerintah,” ujarnya berharap. poll

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*