“Peralatan yang memadai serta koordinasi lintas lembaga sangat penting untuk melindungi masyarakat dan mempercepat penanganan saat terjadi bencana,” ujarnya.
Selain untuk evakuasi dan penanggulangan bencana, perahu karet tersebut juga akan dimanfaatkan dalam penanganan sampah laut, terutama saat musim angin barat. Pada periode tersebut, kawasan pesisir Bali kerap mengalami lonjakan sampah kiriman berupa kayu, plastik, dan material organik.
Beberapa pantai yang rutin terdampak antara lain Kuta, Kedonganan, Legian, Seminyak, Jimbaran, dan Sanur. Berdasarkan data KLH/BPLH, volume sampah laut yang terkumpul sepanjang 23 Januari hingga 26 Februari 2025 mencapai 1.274 ton, dengan komposisi 46 persen sampah organik, 45 persen anorganik, dan 9 persen campuran.
Dalam upaya penanganannya, KLH/BPLH telah berkolaborasi dengan TNI, Polri, bendesa adat, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, serta DLHK Kabupaten Badung melalui pembentukan Posko Penanganan Sampah Laut. Armada air dinilai penting untuk menjangkau area pesisir dan perairan yang sulit diakses dari darat.