Ia juga mendorong agar ke depan Perumda Pasar dan Pangan MGS dapat berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Pangan untuk memberikan pemahaman kepada petani mengenai komoditas yang dibutuhkan pasar.
“Dengan begitu, kita bisa menjaga ketersediaan pangan dalam rangka pengendalian inflasi daerah, sekaligus memastikan hasil pertanian benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar. Sebagai KPM, saya tentu memberikan dukungan penuh, terutama untuk menjaga ketersediaan pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, mengatakan kerja sama ini bertujuan memperluas pasar Food Station Jakarta ke Bali, khususnya Kabupaten Badung yang dinilainya sangat potensial sebagai daerah pariwisata.
“Sebagai BUMD pangan di DKJ, kami mengelola Pasar Induk Beras Cipinang dengan mutasi beras sekitar 2.000 hingga 3.000 ton per hari. Kebutuhan beras sangat besar, sementara lahan sawah kami terbatas. Melalui kolaborasi ini, kami ingin melebarkan suplai, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal,” katanya.
Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, menyebut penandatanganan MoU ini sebagai langkah awal dalam menjaga ketahanan dan pemenuhan kebutuhan pangan, baik di Kabupaten Badung maupun di Provinsi Jakarta.
“Kami berkolaborasi sesama BUMD pangan untuk membangun ketahanan pangan, tidak hanya di Bali, tetapi juga secara nasional. Perumda MGS memiliki RMU, sementara Food Station memiliki market di Bali. Kolaborasi ini diharapkan membuat kedua pihak berkembang bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut juga berpeluang dikembangkan ke komoditas lain selain beras, mengingat Food Station juga memproduksi minyak, gula, hingga susu.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Komisi III DPRD Badung I Made Ponda Wirawan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Badung IB Gede Arjana, sejumlah kepala OPD terkait, jajaran direksi dan Badan Pengawas Perumda MGS, serta para pegawai Perumda Pasar dan Pangan MGS Badung.*
- Editor: Daton









