MATS pertama kali diberlakukan pada 2012 di era Presiden Barack Obama dan disebut berhasil menurunkan emisi merkuri hingga 90 persen. Aturan tersebut kemudian diperkuat kembali pada masa Presiden Joe Biden setelah sebelumnya sempat dilonggarkan.
Secara ilmiah, PLTU batu bara merupakan sumber emisi merkuri terbesar dari aktivitas manusia. Zat berbahaya ini dilepaskan ke atmosfer, turun bersama hujan, lalu masuk ke perairan dan terakumulasi dalam rantai makanan—terutama ikan—yang akhirnya dikonsumsi manusia. Dampaknya bukan hanya pada kualitas udara, tetapi juga pada keamanan pangan dan kesehatan jangka panjang.
Kelompok lingkungan menilai MATS telah berkontribusi menyelamatkan ribuan jiwa dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitar pembangkit. Mereka khawatir pelonggaran standar akan membuka peluang meningkatnya polusi udara, terutama di wilayah yang selama ini sudah terbebani aktivitas industri energi fosil.
Di sisi lain, pelaku industri batu bara menilai regulasi yang ketat membuat biaya operasional melonjak dan mengancam keberlanjutan pembangkit. CEO America’s Power, Michelle Bloodworth, menyatakan pencabutan aturan ini penting untuk menjaga pasokan listrik tetap andal dan terjangkau.
Perdebatan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan kembali mengemuka. Di tengah urgensi penanganan perubahan iklim dan perlindungan kesehatan publik, kebijakan energi Amerika Serikat kini berada di persimpangan antara ekspansi industri batu bara dan komitmen terhadap udara bersih.*
- Editor: Daton









