Netizen Curiga Lucinta Luna Kecanduan Operasi Plastik, Kok Bisa?

LL pamer wajah penuh perban pasca oplas - instagram

DENPASAR, MENITINI.COM – Dunia maya dibuat gempar dengan penampakan Lucinta Luna yang bengkak dan penuh perban. Belum lama menjalani operasi plastik, kini ia kembali ke meja operasi lagi. Ya, menurut pengakuannya sudah 20x artis transgender ini bercengkrama dengan pisau bedah. Wah, normal nggak ya?

Meski bagi transgender, operasi plastik adalah hal yang esensial, namun berlebihan juga tidak baik. Operasi plastik dapat meningkatkan kualitas hidup dan dampak positif pada kesejahteraan emosional penerima. Namun, sisi gelapnya adalah seseorang akan menjadi ketagihan dan muncullah kecanduan operasi plastik. Apakah LL salah satunya? Simak info berikut!

Apa Itu Kecanduan Operasi Plastik?

Kecanduan operasi plastik merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seseorang ingin mengubah penampilannya melalui operasi plastik secara berkelanjutan. Seperti semua bentuk kecanduan, hal ini mungkin tampak sebagai sesuatu yang sangat sehat saat awal. Operasi itu dapat meningkatkan rasa sejahtera seseorang, dan membuat mereka memandang tubuh mereka secara berbeda. Setelahnya, mereka mungkin mulai berpikir untuk merubah segala kekurangan mereka.

Tanda-tanda Kecanduan Operasi Plastik

  • Beberapa Prosedur Sekaligus atau Berturutan

Seseorang yang telah menjadi kecanduan operasi plastik mungkin memiliki daftar prosedur yang ingin mereka lakukan. Mereka mungkin menjadwalkan banyak sekaligus, atau satu per satu sesering mungkin secara berkelanjutan. Kadang ada yang tidak memedulikan apakah jaringan bekas operasi sudah sembuh sempurna dan memaksakan untuk kembali operasi secepatnya.

BACA JUGA:  Perdunu Gelar Festival Santet dan Promosi Daya Tarik Mistis Banyuwangi
  • Pergi ke Ahli Bedah yang Berbeda

Ahli bedah biasanya menjadi ragu untuk melakukan terlalu banyak operasi pada satu orang. Untuk menghindari hal ini, seseorang yang kecanduan akan pergi ke beberapa ahli bedah yang berbeda. Mereka dapat melakukan itu secara bergiliran, atau beralih ketika ahli bedah sebelumnya menolak untuk melakukan lebih banyak pekerjaan pada mereka.

  • Fiksasi Konstan pada Operasi Berikutnya

Seseorang yang kecanduan operasi plastik cenderung tidak puas dengan prosedur baru. Beda dengan yang normal, lebih mungkin untuk menyelesaikan sesuatu dan bahagia, sedangkan orang dengan kecanduan operasi plastik melihat operasi sebagai urusan yang berkelanjutan. Bisa saja suatu waktu terobsesi dengan artis tertentu, namun seiring berjalannya waktu ingin mengubah mirip dengan artis lainnya.

  • Memikirkan Bagian Tubuh yang Perlu Diperbaiki

Tubuh pada dasarnya tidak sempurna, seperti halnya perilaku manusia. Foto dan sampul majalah memang sempurna karena edit foto berlebih supaya sesuai standar kecantikan tertentu. Tetapi hanya karena tidak terlihat seperti sampul majalah bukan berarti ada yang salah. Kita tercipta dengan keunikan masing-masing yang menjadi ciri khas. Saat kecanduan terjadi, Anda akan terobsesi untuk memperbaiki fisik yang Anda rasa kurang.

  • Harapan Tidak Realistis

Beberapa orang menggunakan operasi plastik sebagai upaya untuk terlihat seperti selebriti, atau orang lain yang mereka kenal. Mereka mungkin sangat kecewa ketika operasi tidak dapat membuat mereka terlihat lebih seperti orang lain. Alih-alih puas dengan prosedur, mereka mungkin merasa ahli bedah tidak melakukan cukup banyak untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Padahal respon tubuh terhadap operasi juga beragam.

BACA JUGA:  Tips Sederhana Rayakan Hari Ibu yang Berkesan

Kecanduan dan Dismorfia Tubuh

Penelitian telah menunjukkan bahwa dismorfia tubuh biasanya merupakan akar penyebab kecanduan operasi plastik. Sebanyak 2,2% pria dan 2,5% wanita seluruh dunia menderita gangguan dismorfik tubuh (BDD). BDD adalah masalah perilaku yang berfokus pada kekurangan fisik yang mereka rasakan. Orang dengan BDD dapat menghabiskan banyak waktu untuk mengamati tubuh mereka dan berfokus pada kekurangan yang mereka miliki saja. Seringkali, mereka berpikir bahwa mereka memiliki masalah besar yang perlu diperbaiki yang bahkan tidak dapat dikenali oleh orang lain. Diagnosis BDD sendiri diperoleh berdasar pemeriksaan status kesehatan mental dari psikolog ataupun psikiater.

Pencegahan Kecanduan Operasi Plastik

Bagi siapa saja yang telah menjalani prosedur bedah kosmetik dan ingin memastikan mereka tidak mengembangkan kecanduan, penting untuk mengetahui terlebih dahulu apakah Anda menderita BDD atau tidak.  Jika Anda tidak memiliki BDD tetapi mendapati diri Anda menginginkan lebih banyak operasi, segera berkonsultasilah dengan terapis. Upayakan tidak menyangkal kondisi Anda sehingga Anda tidak terjerumus pada pisau bedah berulang. Libatkan teman dan orang yang Anda cintai sehingga Anda tetap dapat menentukan pilihan yang bertanggung jawab.

BACA JUGA:  Lima Negara Tersantai di Dunia, Indonesia Peringkat Pertama

Mengatasi Kecanduan Operasi Plastik

Cara pertama untuk mengetahui dengan pasti bahwa Anda berurusan dengan kecanduan operasi plastik adalah jika ahli bedah Anda tidak ingin melakukan prosedur lagi pada Anda. Cara lain untuk mengetahui adalah jika orang yang Anda cintai mengungkapkan keprihatinan atas tindakan itu.

Jika Anda menyadari bahwa Anda memiliki kecanduan operasi plastik, segera cari bantuan pada ahlinya. Menemukan terapis yang menangani ini mungkin tampak seperti tantangan. Pastikan terapis Anda memahami tentang BDD dan terbiasa menanganinya. BDD sendiri sudah terdaftar dalam gangguan perilaku panduan DSM 5. Sebagian besar psikolog, psikiater, dan terapis pernikahan dan keluarga tahu cara untuk membantu Anda. (M-010)