Dalam paparannya, Widiyanti menjelaskan bahwa pemerintah memfokuskan pembangunan pariwisata berkelanjutan di 13 destinasi utama, yang terdiri atas 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan tiga Destinasi Regeneratif. Sementara itu, pemerintah daerah dan pelaku industri didorong untuk mengembangkan destinasi lain secara mandiri.
“Visi kami tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan memastikan peluang yang adil bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Dari sisi kinerja, sektor pariwisata sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan positif. Kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Januari–November 2025 mencapai 13,98 juta dan diproyeksikan menembus 15,34 juta kunjungan hingga akhir tahun, melampaui target nasional.
Selain jumlah kunjungan, kualitas belanja wisatawan juga meningkat. Rata-rata pengeluaran wisatawan internasional tercatat sebesar 1.259 dolar AS per kunjungan pada tiga kuartal pertama 2025, di atas target 1.220 dolar AS. Dampaknya, devisa pariwisata mencapai 13,82 miliar dolar AS dan diperkirakan menembus 18,53 miliar dolar AS pada akhir 2025.
Sektor pariwisata juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja dengan total 25,91 juta pekerja per Agustus 2025 dan ditargetkan meningkat menjadi 26,53 juta orang pada 2026.
Widiyanti secara terbuka membandingkan posisi Indonesia di kawasan ASEAN. Dari sisi jumlah kunjungan absolut, Indonesia berada di peringkat kelima. Namun, dari laju pertumbuhan, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi.
“Jika kita membandingkan dengan Malaysia, misalnya, kita perlu mengecualikan data ekskursionis, yakni pelancong yang hanya melintas singkat. Dengan perbandingan yang setara, pertumbuhan Indonesia sangat kompetitif,” ujarnya.









