Mengurangi Resiko Bencana Perlu Keterlibatan Masyarakat untuk Perkuat Ketangguhan Bangsa

Letjen Sumarsono memberikan materi tentang PRB di Bogor

BOGOR, MENITINI.COM  – Tiap tahun di bulan Oktober, diperingati sebagai bulan Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Tahun ini semua pemangku kepentingan, pemerintah, lembaga usaha dan masyarakat diminta memperkuat investasi  ketangguhan bangsa. secara umum, peringatan ini bertujuan membangun kesadaran bersama, membangun dialog dan mengembangkan jejaring antar pelaku PRB.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI, Letjen TNI (Purn) Sumarsono, SH mengatakan,  sejauh ini PMI terus berupaya membantu pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia, baik dengan memberikan bantuan kepada korban, memberikan pelayanan darah, mengerahkan relawan dan juga membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

“Dalam upaya membangun masyarakat tangguh bencana, PMI melakukan aksi kemanusiaannya di daerah-daerah rawan bencana dengan mengutamakan beberapa strategi. Misalnya, mengintegrasikan pengurangan risiko bencana, melakukan adaptasi perubahan iklim dan upaya pelestarian lingkungan dalam kebijakan pengurangan resiko bencana,” kata Sumarsono, di Bogor, Senin (12/10/2020)

Lanjutnya, PMI juga mempromosikan perilaku tangguh bencana mulai dari tingkat keluarga, masyarakat, maupun kepada desa-desa yang rawan terkena bencana. Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, PMI, ia mengakui tidak bekerja sendiri, meningkatkan kerja sama strategis yang berkesinambungan, baik dengan pemerintah, swasta, gerakan masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Perintahkan Kemenlu Bantu maksimal Kepulangan Jenazah Eril

“Untuk membangun masyarakat yang tangguh bencana, perlu mengutamakan pengelolaan resiko secara terpadu dengan secara penuh melibatkan partisipasi seluruh warga masyarakat serta memperkuat masyarakat dan sistem institusi untuk kesehatan, pendidikan, pelayanan sosial dan penghidupan masyarakat,”paparnya.

Setiap tahun peringatan bulan PRB memiliki tema berbeda.  Tahun ini, mengusung tema “Daerah Punya Aksi Pengurangan Risiko Bencana”. Dan dan memiliki 5 indikator tema, diantaranya, pertama, ketangguhan Daerah, kedua, peran masyarakat, Perguruan Tinggi & Lembaga usaha. Ketiga, Mitigasi Vegetatif. Keempat, Peringatan Dini dan yang kelima Disasters During Disasters: Multi-Hazard Approach to Geological and Hidro-Meteorological Hazard Amidst Covid-19 Pandemic. 

Menurut Sumarsono khusus pada tema  kedua, tujuannya memahami  konsep kemitraan, sinergi dan koaborasi dari masyarakat, lembaga usaha dan perguruan tinggi serta media massa, mengadopsi praktik-praktik baik serta mendapatkan rekomendasi membangun kerja sama, mengadopsi dan mereplikasi keberlanjutan pelaksanaan PRB dan meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. 

BACA JUGA:  Pintu Masuk Internasional Dibuka Kembali untuk Bali Mulai Tanggal 4 Februari 2022

“Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam penanggulangan bencana karena masyarakat menjadi orang-orang pertama yang terkena dampak. Masyarakat juga menjadi orang yang pertama kali memberikan respons terhadap bencana. Untuk itu, dalam upaya membangun kapabilitas masyarakat, MDMC melakukan sejumlah program, antara lain program satuan pendidikan aman bencana dan program masyarakat tangguh bencana,”ujarnya sembari menjelaskan,  terutama dalam program pendidikan, MDMC bersama BNPB dan gerakan masyarakat lain berupaya membekali pengetahuan masyarakat, terutama siswa di sekolah, tentang cara-cara yang dapat dilakukan mencegah dan menanggulangi bencana.

Selain itu, Palang Merah Indonesia (PMI)  juga melakukan hal yang sama, yaitu berupaya membantu mengurangi resiko bencana, salah satunya dengan membangun masyarakat yang tangguh saat menghadapi bencana. Dalam upaya membangun masyarakat tangguh bencana, PMI melakukan aksi kemanusiaannya di daerah-daerah rawan bencana. poll

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*