Mengapa Kita Merasa Waktu Seolah Cepat Berlalu?

Waktu Seolah Cepat Berlalu

“Wah, cepat sekali waktu berlalu!” Yang berusia di atas 30 tahun pasti pernah mengalami momen-momen seperti ini. Tanpa terasa waktu sehari, seminggu, sebulan, hingga setahun lewat begitu saja. Padahal sepertinya terakhir melihat kalender, baru satu dua hari lewat.

Sedangkan saat masih kanak-kanak, waktu justru terasa sangat lambat. Kita menanti- nanti terus saatnya liburan sekolah. Bahkan ketika ada rencana berdarma wisata bersama teman sekolah, kita merasa hari itu tak kunjung tiba.

Namun, semakin bertambahnya usia, kita merasa bahwa waktu cepat berlalu. Bagaimana fenomena ini bisa terjadi?  Mengapa waktu cepat berlalu ketika kita beranjak dewasa?

Pada dasarnya, jalannya waktu akan tetap sama apapun yang terjadi. Hanya saja, manusia punya cara yang istimewa utk merasakan waktu. Para ahli menemukan dua teori kuat yang bisa menjelaskan mengapa waktu cepat berlalu semakin bertambahnya usia. Inilah penjelasan kedua teorinya.

Pertama, jam biologis tubuh berubah. Kita punya sistem sendiri supaya segala fungsi tubuh berjalan dengan baik. Bahkan tanpa perlu dikendalikan. Misalnya pernapasan, detak jantung dan aliran darah. Semua sistem ini diatur oleh jam biologis. Jam biologis sendiri pusat kendalinya ada di otak, tepatnya oleh saraf suprachiasmatic (SCN).

BACA JUGA:  Bill Gates Dukung Transformasi Kesehatan Digital Indonesia

Pada jam biologis anak-anak, ada lebih banyak aktivitas fisik yang berlangsung selama rentang waktu tertentu. Sejumlah riset menemukan bahwa dalam semenit misalnya, anak-anak menunjukkan jumlah detak jantung dan tarikan napas yang lebih banyak daripada orang dewasa.

Semakin kita bertambah tua, aktivitas fisik yang terjadi dlm rentang waktu semenit pun akan berkurang. Karena jam biologis orang dewasa lebih santai, kita pun merasakan waktu cepat berlalu. Misalnya dalam semenit jantung anak berdetak sekitar 150 kali. Sedangkan pada orang dewasa jantungnya hanya berdetak 75 kali dalam satu menit. Ini berarti orang dewasa membutuhkan waktu dua menit untuk mencapai jumlah detak jantung yang sama dengan zaman kita masih kecil dulu.

Maka, meskipun waktu sudah berjalan selama dua menit, otak kita mengira ini masih satu menit lantaran kita dulu cuma butuh waktu semenit utk mencapai 150 detak jantung.
Kedua, semakin terbiasa dengan lingkungan sekitar. Teori kedua berhubungan dengan daya ingat dan bagaimana otak mengolah informasi yang diterima. Semasa kecil, dunia adalah tempat yang sangat menarik dan sarat pengalaman baru. Kita seolah haus untuk menyerap beragam informasi yang tak terpikirkan sebelumnya. Hidup sepertinya tidak bisa diprediksi dan kita bebas berbuat apapun.

BACA JUGA:  Joe Biden Ajak Waspada Kanker Kulit, Apa Faktor Resikonya?

Hal ini tentu berubah saat kita menginjak usia dewasa. Dunia sudah bisa ditebak dan tak menawarkan pengalaman baru lagi. Sehari-hari kita juga tinggal menjalani rutinitas seperti biasa dari bangun pagi hingga tidur di malam hari. Kita tahu kalau harus sekolah, mencari pekerjaan, mungkin akan membangun keluarga dan akhirnya pensiun.

Selain itu, beragam informasi yang diterima sudah tidak mengejutkan lagi karena kita sudah belajar banyak. Misalnya kita tahu kalau mendung artinya mau hujan. Ketika menerima stimuli (informasi) dg mempelajari hal-hal baru, otak akan berproses lebih keras untuk memahami dan menyimpannya ke dalam ingatan.

Proses ini tentu memakan waktu dan tenaga. Maka, seolah-olah waktu berputar lebih lama waktu kita kecil dan banyak menerima stimuli baru. Sedangkan memasuki usia 30-an, kita sudah jarang jarang menerima stimuli sehingga kita merasa waktu cepat berlalu. dbs

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*