Kelangkaan Minyak Tanah di Oransbari, Biogas Diharapkan jadi Solusi

Kelangkaan Minyak Tanah di Oransbari, Biogas Diharapkan jadi Solusi
Kelangkaan Minyak Tanah di Oransbari, Biogas Diharapkan jadi Solusi

MANOKWARI SELATAN,MENITINI.COM – Harga bahan bakar rumah tangga di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, masih menjadi persoalan bagi masyarakat. Kementerian Transmigrasi melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ITS mengusulkan inovasi biogas bersumber dari kotoran sapi sebagai sumber energi alternatif.

“Gas yang dihasilkan dari 10 ekor sapi juga dapat menyuplai hingga tiga rumah dengan jarak tidak lebih dari 50 meter, dengan penggunaan satu kompor biogas tiap rumahnya,” Ujar Solikin, pakar biogas asal Pasuruan, Jawa Timur yang telah berhasil mengembangkan desa mandiri energi dengan pemanfaatan limbah kotoran sapi perah.

BACA JUGA:  Kemnaker Uji Coba Pelatihan Terhubung Industri untuk Tekan Kesenjangan Kompetensi

Sebelum mengenal biogas, masyarakat Oransbari masih mengandalkan bahan bakar minyak tanah subsidi dengan harga beli sebesar Rp20.000 per lima liter dan Rp35.000 untuk harga non-subsidi. Selain itu, opsi gas elpiji hanya tersedia dalam ukuran 12 kilogram yang dibandrol dengan harga Rp500.000 hingga Rp800.000 saat terjadi kelangkaan.

Harga gas elpiji yang melambung tinggi menjadi salah satu alasan kuat mengapa masyarakat masih bergantung pada subsidi minyak tanah. Namun, di sisi lain pasokan minyak tanah juga didistribusikan secara terbatas melalui sistem pengisian berkala, dengan setiap kepala keluarga hanya diperbolehkan mengisi satu jeriken dalam satu periode pengisian.

BACA JUGA:  Menaker: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Hadirkan Era Baru Hukum Ketenagakerjaan

Situasi ini mendorong peluncuran inovasi biogas sebagai alternatif sumber energi yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Memanfaatkan limbah kotoran sapi warga, Tim 8 Ekspedisi Patriot ITS dapat menghasilkan 3 produk energi berupa gas, listrik dan pupuk organik.

Halaman 1 dari 3
Scroll to Top