Senin, 24 Juni, 2024

Jatuh cinta dan perilaku obsesi - freepik

DENPASAR, MENITINI.COM – Jatuh cinta adalah pengalaman emosional yang intens. Sering kali timbul dalam bentuk perasaan mendalam. Saking dalamnya, batasan kewarasan mulai kabur dan dapat berkembang menjadi obsesi. Ternyata tidak terjadi di layar kaca saja seperti serial Baby Reindeer yang baru saja tayang di kanal Netflix. Ada juga versi Indonesianya dengan kasus Nimas dan Adi yang sedang viral dalam tautan X. Hanya karena perkara perhatian kecil berujung obsesi selama 10 tahun lamanya.

Alasan Cinta Menjadi Obsesi

Nah, obsesi terhadap seseorang dalam konteks cinta bukanlah hal yang jarang terjadi. Hanya saja sering kali ditutup-tutupi atau korban menganggapnya sebagai aib. Padahal tidak jarang kondisi ini memerlukan bantuan dari pihak profesional. Selain dari faktor psikologis dan biologis berikut adalah beberapa alasan mengapa jatuh cinta dapat berubah menjadi obsesi serupa candu:

1. Peran Hormon dan Neurotransmitter

Ketika seseorang jatuh cinta, tubuh melepaskan berbagai hormon dan neurotransmitter seperti dopamin, serotonin, oksitosin, dan norepinefrin. Dopamin, khususnya, dikenal sebagai hormon kebahagiaan dan terlibat dalam sistem penghargaan otak. Rasa senang dan kepuasan produk dari dopamin dapat membuat seseorang terus mencari pengalaman yang sama berulang kali. Bisa kita bilang mirip dengan mekanisme kecanduan.

2. Kebutuhan Akan Pengakuan dan Validasi

Perasaan dicintai memberikan pengakuan dan validasi yang sangat kuat terhadap harga diri seseorang. Ketika seseorang merasa bahwa kebahagiaannya sangat bergantung pada pengakuan dari orang yang dicintai, mereka mungkin menjadi sangat terobsesi untuk mempertahankan hubungan tersebut. Hal ini sering kali diperkuat oleh ketakutan akan penolakan atau kehilangan, yang dapat memicu perilaku obsesi.

3. Mekanisme Penghindaran Emosi Negatif

Jatuh cinta bisa menjadi pelarian dari emosi negatif atau situasi stres dalam kehidupan seseorang. Ketika perasaan cinta menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan penghindaran dari masalah, seseorang mungkin menjadi terobsesi untuk mempertahankan perasaan tersebut dan menghindari menghadapi realitas yang tidak menyenangkan.

4. Kecenderungan Psikologis Individu

Orang dengan kecenderungan untuk mengalami kecemasan atau memiliki kelekatan yang tidak aman mungkin lebih rentan terhadap obsesi dalam cinta. Kelekatan ini dapat berasal dari pengalaman masa kecil atau hubungan masa lalu yang penuh tekanan. Hasilnya, pola perilaku toksik ketika individu merasa perlu untuk terus-menerus mengamankan kasih sayang dari pasangannya.

5. Sosialisasi dan Pengaruh Budaya

Budaya dan media sering kali menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipertahankan dengan segala cara. Narasi-narasi ini dapat mempengaruhi persepsi seseorang tentang cinta, mendorong mereka untuk melihat obsesi sebagai bagian dari perjuangan cinta yang romantis dan diperlukan.

6. Ketidakmampuan untuk Menerima Penolakan

Ketika cinta tidak terbalas atau berakhir, beberapa individu mungkin mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan tersebut. Ketidakmampuan untuk menerima penolakan dapat memicu obsesi. Seseorang akan terus-menerus memikirkan cara untuk memenangkan kembali hati orang yang dicintai atau memperbaiki hubungan yang telah berakhir.

Dampak dari Perilaku Obsesi

Obsesi saat jatuh cinta dapat memiliki dampak negatif yang signifikan. Tidak hanya bagi individu yang mengalaminya maupun bagi orang yang menjadi objek obsesi. Beberapa dampak negatif tersebut antara lain:

  • Kehilangan Kendali Diri: Obsesi dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas tindakan dan pemikiran mereka, mengganggu keseharian dan produktivitas.
  • Ketegangan dalam Hubungan: Obsesi dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan, baik dengan pasangan maupun dengan orang lain di sekitar mereka.
  • Masalah Kesehatan Mental: Perasaan cemas, depresi, dan stres yang berkepanjangan dapat berkembang dari obsesi yang tidak sehat.
  • Risiko Perilaku Berbahaya: Dalam kasus ekstrem, obsesi dapat mengarah pada perilaku berbahaya seperti penguntitan atau kekerasan bahkan risiko menyakiti diri sendiri.

Kapan Korban Harus Mencari Bantuan?

Menjadi korban dari perilaku obsesi dapat menjadi pengalaman yang menakutkan dan mengganggu. Penting untuk mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri sendiri dan mengatasi masalah tersebut. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu:

1. Kenali Tanda-tanda Obsesi

Langkah pertama adalah mengenali tanda-tanda perilaku obsesif, yang bisa meliputi:

  • Pesan atau panggilan berulang-ulang tanpa henti.
  • Upaya terus-menerus untuk memantau atau mengendalikan kegiatan Anda.
  • Perilaku cemburu yang berlebihan atau tidak rasional.
  • Menguntit secara fisik atau di media sosial.
  • Mengungkapkan perasaan cinta atau komitmen yang berlebihan dan tidak proporsional dengan tingkat hubungan.

2. Tetapkan Batasan dan Batasi Kontak

Tetapkan batasan yang jelas dan tegas dalam interaksi dengan orang yang bersikap obsesif. Jelaskan dengan sopan tetapi tegas tentang perilaku yang tidak dapat diterima dan apa yang Anda harapkan dalam interaksi tersebut. Membatasi atau menghentikan semua bentuk kontak mungkin perlu. Tindakan ini meliputi berhenti menjawab panggilan, pesan, atau interaksi di media sosial bahkan blokir.

4. Cari Dukungan dari Orang Terdekat dan Hukum

Berbicara dengan teman atau anggota keluarga tentang situasi yang Anda hadapi dapat memberikan dukungan emosional dan mungkin juga saran praktis. Mereka dapat membantu memantau situasi dan memberikan perspektif yang lebih objektif. Jika perilaku obsesif berubah menjadi ancaman atau penguntitan, pertimbangkan untuk mencari bantuan hukum. Anda dapat melaporkan perilaku tersebut kepada polisi bahkan mengajukan perintah penahanan untuk melindungi diri Anda. Jangan lupa untuk melampirkan setiap insiden baik tertulis maupun yang tidak tertulis.

5. Manajemen Stres dan Kesejahteraan

Menghadapi perilaku obsesif bisa sangat stres. Penting untuk merawat diri sendiri dengan baik selama masa ini. Praktikkan manajemen stres seperti meditasi, olahraga, dan menjaga rutinitas tidur yang baik untuk membantu menjaga kesehatan mental dan fisik Anda. Berbicara dengan profesional seperti konselor atau terapis dapat membantu memberikan dukungan emosional dan membantu Anda mengembangkan keterampilan untuk menghadapi perilaku obsesif.

6. Jaga Keamanan dan Relokasi Sementara

Prioritaskan keselamatan pribadi Anda. Jika Anda merasa dalam bahaya, segera hubungi pihak berwenang atau layanan darurat. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari orang-orang di sekitar Anda untuk memastikan keselamatan Anda. Dalam kasus ekstrem pertimbangkan untuk pindah ke lokasi sementara yang aman sampai situasi mereda.

Kesimpulan

Menghadapi perilaku obsesif dalam cinta adalah tantangan besar, tetapi dengan langkah-langkah yang tepat dan dukungan yang memadai, Anda dapat melindungi diri dan mengatasi masalah tersebut dengan lebih baik. Keamanan dan kesejahteraan Anda adalah prioritas utama, jadi jangan ragu untuk mengambil tindakan dengan segera! (M-010)