Joe Biden Ajak Waspada Kanker Kulit, Apa Faktor Resikonya?

DENPASAR, MENITINI.COM – Presiden Amerika Serikat, Joe Biden baru saja mengeluarkan statement mengejutkan. Dalam pidatonya beberapa hari lalu, beliau mengatakan bahwa ia pernah menderita kanker kulit dan menekankan kewaspadaan terhadap resiko kanker kulit. Tentu saja masyarakat terkaget-kaget. Berdasar klarifikasi juru bicaranya, beliau benar pernah menderita kanker kulit jenis non-melanoma dan sudah remisi.

Memang terdengar mengerikan ya. Kira-kira apa sebabnya dan siapa saja yang beresiko lebih tinggi? Berikut redaksi sudah merangkum serba-serbi faktor resiko kanker kulit.

Penyebab Belum Diketahui

Hingga kini, penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab utamanya. Banyak spekulasi terkait penyebab utama yang merangsang lecutan aktivitas pada gen pemicu kanker kulit. Hanya saja, kumpulan studi sudah mengerucutkan faktor resiko populasi yang beresiko lebih tinggi. Beberapa antaranya yaitu warna kulit dan etnis, paparan sinar matahari berlebih, kulit sering terbakar, paparan bahan kimia lingkungan dan riwayat merokok.

Menyoal penyakit turunan atau tidak, sejauh ini riwayat keluarga dengan kanker kulit, dapat meningkatkan resiko. Riwayat di lokasi mana saja juga berpotensi diturunkan menjadi kanker kulit pada generasi berikutnya. Selain itu juga terkait dengan pola makan dan diet pada keluarga.

Faktor Resiko Kanker Kulit

Faktor resiko terbagi menjadi langsung dan tak langsung. Mekanisme utamanya adalah kerusakan pada skin barrier, perubahan DNA (mutasi gen) yang dapat memicu sel kanker, dan penekanan sistem kekebalan sehingga tubuh tidak merespon semestinya. Apa saja faktor resikonya?

Usia

Secara umum, tipe non-melanoma (seperti karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa) meningkat seiring bertambahnya usia. Hanya saja, akhir-akhir ini melanoma juga sering ditemukan pada orang muda.

BACA JUGA:  BIN Daerah Bali Target Habiskan 484 Ribu Dosis Boster Tahun 2022

Warna Kulit, Etnis, dan Fitur Tubuh

Orang yang memiliki kulit putih memiliki resiko tertinggi karena pigmen melanin mereka lebih sedikit daripada mereka yang memiliki kulit gelap. Pada orang kulit gelap, walau resiko kejadian lebih rendah tapi lebih fatal. Fatalitas ini akibat kesulitan dalam mendeteksi kelainan kulit pada pigmen lebih gelap. Akhirnya, sebagian besar orang kulit gelap terdiagnosis lebih terlambat. Selain itu orang-orang dengan karakter kulit berbintik, mudah terbakar, memiliki mata berwarna terang, populasi berambut merah atau pirang alami lebih beresiko.

Paparan UV

Paparan sinar matahari menyumbang 70% dari kejadian. Sengatan matahari yang parah pada usia muda, meskipun hanya terjadi sekali, dapat menjadi faktor resiko yang signifikan bahkan beberapa dekade kemudian. Dengan kata lain, setiap hari, paparan sinar matahari rutin merupakan faktor resiko. Walau hari mendung dan berawan bukan berarti UV tidak berpotensi merusak kulit.

Bahan Kimia Lingkungan

Paparan bahan kimia dapat meningkatkan kanker kulit. Zat yang terkait dengan peningkatan risiko meliputi arsenik, tar, vinyl chloride dan parafin. Bahan-bahan pelarut seperti pelarut aromatik dan terklorinasi untuk keperluan rumah tangga juga berpotensi meningkatkan resiko. Maka dari itu, meski ada klaim aman, tetap gunakan sarung tangan saat menggunakan pelarut dan pembersih untuk rumah tangga.

Merokok

Kebiasaan merokok adalah pintu gerbang setiap penyakit. Tingginya akumulasi radikal bebas dalam tubuh dapat merubah struktur genetik tubuh dan memicu penuaan sel. Sebuah studi membuktikan, adanya penurunan resiko kanker kulit pada mantan perokok. Hasilnya cukup mengejutkan, marker kankernya dapat turun hingga tidak terdeteksi ketika berhasil berhenti merokok.

BACA JUGA:  Waspada! Ini Lima Titik Lengah Penularan Omicron

Kondisi Kulit Khusus

Ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan resiko terkena kanker kulit. Bahkan terduga sebagai lesi prakanker. Beberapa kondisi tersebut antara lain:

  • Riwayat kanker kulit (meski beda tipe)
  • Keratosis aktinik atau bintik matahari (tipe datar maupun menonjol)
  • Jumlah tahi lalat lebih dari 50
  • Tahi lalat yang tampak tidak normal
  • Nevus melanositik kongenital serupa tanda lahir
  • Riwayat kulit dengan luka bakar atau alergi yang parah
  • Menjalani terapi UV atau terapi radiasi

Genetika

Studi kembar identik menunjukkan bahwa hampir setengah dari resiko seseorang untuk karsinoma sel basal dan sel skuamosa disebabkan oleh faktor genetik. Penelitian di Swedia, menemukan resiko karsinoma sel skuamosa adalah 2-4 kali rata-rata jika kerabat tingkat pertama (orang tua, saudara kandung, atau anak) menderita kanker kulit. Pada riwayat keluarga dengan sindrom nevus atipikal menunjukkan hasil serupa.

Ada beberapa sindrom keturunan yang meningkatkan resiko kejadian. Beberapa yang lebih umum termasuk orang dengan sindrom nevus sel basal akibat mutasi gen PTCH1 dan PTCH2. Selain itu pada populasi dengan xeroderma pigmentosum, albinisme okulokutaneus, epidermolisis bulosa, dan anemia Fanconi. Populasi dengan kelainan pada gen supresor tumor CDKN2A dan mutasi gen BRCA2 juga tidak terlewat menjadi salah satu yang lebih beresiko. (M-010)