JAKARTA,MENIITINI.COM – Sistem penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) kembali menjadi sorotan, kali ini dari sisi dampaknya terhadap keberlangsungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai mekanisme yang berlaku saat ini berpotensi menciptakan ketimpangan dalam perekrutan mahasiswa baru.
Dalam kunjungan kerja di Universitas Riau, Pekanbaru, Fikri menekankan bahwa panjangnya durasi seleksi jalur mandiri PTN menjadi salah satu faktor utama yang mempersempit ruang gerak PTS. Menurutnya, pembukaan pendaftaran hingga pertengahan tahun bahkan mendekati Agustus membuat calon mahasiswa cenderung menunggu peluang di PTN, sehingga PTS kehilangan momentum penerimaan.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi ini memicu banyak keluhan dari pihak PTS yang merasa tersisih. Situasi tersebut mendorong Komisi X DPR RI untuk membentuk panitia kerja guna mengkaji ulang kebijakan yang ada.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang menyoroti aspek keadilan semata, Fikri kini mendorong adanya pembagian peran yang lebih jelas antara PTN dan PTS. Ia menilai PTN seharusnya difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan, sementara PTS diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.
Selain itu, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut juga mengangkat isu lain yang dinilai tak kalah penting, yakni tumpang tindih program studi antar lembaga pendidikan tinggi di bawah berbagai kementerian. Ia mengingatkan bahwa kesamaan program studi justru menciptakan persaingan yang tidak sehat, terutama bagi PTS.
Menurutnya, perlu ada penataan ulang agar setiap institusi memiliki keunggulan masing-masing dan tidak saling beririsan. Dengan demikian, ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia dapat berkembang lebih seimbang, tanpa saling melemahkan antar penyelenggara pendidikan. (M-011)
- Editor: Daton









