Rabu, 29 Mei, 2024

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng Bali Waste Cycle (BWC) melakukan pembersihan sampai di Pantai Kuta Bali, Jumat sore (15/9/2923). (Foto: M-011)

BADUNG,MENITINI.COM-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng Bali Waste Cycle (BWC) melakukan pembersihan sampai di Pantai Kuta Bali, Jumat sore (15/9/2923). Selain memilih sampah, sekitar 500 orang dari berbagai elemen masyarakat itu juga dilatih dan diedukasi bagaimana memilah sampah secara baik dan benar.

Ini adalah program rencana aksi nasional yang dilakukan oleh tim koordinasi nasional penanganan sampah laut. Kemenparekraf merupakan salah satu bagian dari tim itu menggelar kegiatan Sunset Clean Up di Pantai Kuta dan Pantai Jerman kemarin sore.

Direktur Tata Kelola Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Indra Ni Tua yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan, data secara nasional dalam satu tahun itu ada sekitar 7 ton merupakan sampah plastik.

“Ada siklusnya dan kalau di Pantai Kuta pada November-Februari sampah kiriman terjadi. Pada periode itu akan jadi masalah bagi wisatawan dan kita tangani dengan pengadaan alat berat melalui program ekonomi nasional,” ujarnya. Ia mengatakan, masalah ini perlu perlu partisipasi aktif dari masyakarat dan stakeholder terkait seperti komunitas atau organisasi peduli sampah.

Kemenparekraf minggu lalu baru melakukan penandatangan kerja sama dengan GoTo untuk penanganan sampah plastik. “Dengan target yang besar (penyelesaian penanganan sampah plastik) kalau peran serta aktif semuanya untuk penanganan sampah tidak dilakukan mengakibatkan daya tarik disini (Pantai Kuta) akan turun. Ini bebannya berat tapi kalau dipikul bersama mudah-mudahan akan dapat kita kejar targetnya,” imbuh Deputi Indra Ni Tua.

Sementara itu Direktur Bali Waste Cycle, Olivia Anastasia Padang menambahkan, kegiatan Sunset Clean Up Pantai Kuta diinisiasi oleh Kemenparekraf yang berkolaborasi dengan Bali Waste Cycle.
Bali Waste Cycle sebagai kolaborator dan di-co-organize oleh Yayasan Wastehub Alam Lestari dan disupport oleh 10 organisasi pendukung lainnya.

Tim BWC melakukan penimbangan sampah yang telah dikumpulkan dari pantai. (Foto: M-011)

Ke-10 organisasi pendukung itu diantaranya Kolaborasi Bumi, Pepelingasih Bali, PCMI Bali, Teens Go Green, Trash Hero Kuta, Yellow Garden Community bersama SMPN 2 Abiansemal dan Sispala SMPN 3 Abiansemal, Tegal Dukuh, Dompet Dhuafa, The Climate Reality Project bersama Pramuka Bali, Senang Eco Services dan Social Project Bali.

Olivia menambahkan, maksud dan tujuan dari kegiatan yang diadakan selama dua hari ini adalah bukan sekedar memungut sampah di pantai tetapi ada tiga hal yang menjadi komitmen bersama.

“Pertama komitmen kita dalam mewujudkan Bali yang bersih dan menjaga pariwisata Bali, kedua, ingin menunjukkan detirminasi bahwa kita menolak polusi sampah di laut dan ketiga, ingin menyampaikan pesan bahwa kita bertanggungjawab, peduli dan kita punya harapan dengan kegiatan ini menjadi baik,” ujarnya.

Selain itu pihaknya juga mengedukasi pedagang-pedagang disini untuk pemilahan sampah.

“Di sini kita mengedukasi pedagang sekitar untuk dapat memahami pentingnya pemilahan sampah dari sumber. Dan sampah-sampah yang terkumpul dari kegiatan Sunset Clean Up akan dipilah menjadi tiga yakni organik, non organik dan residu,” imbuh Olivia.

Pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya. (Foto: M-011)

Total peserta teregistrasi dalam kegiatan sementara berjumlah 584 orang dari Bali Waste Cycle dan organisasi pendukung yang disebutkan diatas. Untui Bali Waste Cycle terdapat aspek waste edukasi, waste recycle dan waste recovery.

Waste edukasi yakni mengedukasi pentingnya pemilahan sampah kepada masyarakat, lalu sampah yang bernilai tinggi dilakukan daur ulang atau waste recycle dan residunya diolah kembali agar tidak ada yang terbuang ke TPA kita olah menjadi RDF.

“Jadi residu itu akan kita jadikan RDF sehingga tidak ada lagi sampah dari hasil kegiatan-kegiatan kita yang terbuang ke TPA,” ucap Olivia.

Ia menjelaskan, ketika mengikuti innovation ecosystem melalui inisiatif catalyst changemakers ecosystem, dirinya dibekali aktivitas dan juga pengetahuan yang pada akhirnya memberikan inisiatif baru untuk menghadirkan sebuah proyek sendiri bernama Sukla Project.

Sukla Project pernah mendapat kesempatan untuk memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada 2ribu masyarakat Besakih sebagai salah satu destinasi wisata di Bali.

Mulai dari cara memilah-milih sampah sesuai kategori high value dan low value. Sampah yang bernilai high value dapat ditemui apabila botol plastik masih dalam keadaan utuh atau bentuk sempurna yang bisa diolah menjadi produk yang berkelanjutan.

Sementara yang low value biasanya sampah plastik shampoo saset ataupun kantong kresek yang diolah menjadi sumber energi atau RDF (Refuse Derived Fuel) sehingga mampu mengurangi penggunaan batu bara.

“Edukasi ini kami berikan tidak hanya kepada masyarakat tapi juga kepada wisatawan, para pengunjung, dan para peziarah disana,” demikian kata Olivia.