DPR Dukung Pemanfaatan Daun Kelor untuk Turunkan Stunting di NTT

Daun kelor (marungga)
Khasiat daun kelor atau yang biasa dijuluki Superfood ini tidak perlu diragukan lagi. WHO pun mengeluarkan kajian tentang Marungga sebagai salah satu sumber alternatif untuk mengatasi malnutrisi. (Foto: kompas.com

JAKARTA,MENITINI.COM-Komisi IX DPR RI menerima audiensi Tim Moringa Provinsi Nusa Tenggara Timur terkait pembahasan upaya Pemerintah Provinsi NTT dalam menurunkan angka stunting di Provinsi tersebut melalui pemanfaatan produk olahan tumbuhan kelor atau Marungga. Rapat yang dipimpin Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena ini berlangsung di Ruang Rapat Komisi IX, Senayan, Jakarta, Senin (5/12/2022).

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita menyampaikan dukungannya untuk pemanfaatan daun kelor dalam mengatasi stunting. Mengingat, angka prevalensi stunting di Provinsi NTT masih tergolong tinggi. “Kami mendukung secara penuh untuk pemanfaatan daun kelor sebagai salah satu solusi penurunan angka stunting,” ujar Felly.

BACA JUGA:  Kepala BNPB Tinjau Kesiapan Lokasi Karantina di Bali

Selain mudah tumbuh dan bisa ditanam di halaman rumah, Felly mengatakan, daun dengan nama latin Moringa Oleifera ini sangat bermanfaat. Menurutnya, khasiat daun kelor atau yang biasa dijuluki Superfood ini tidak perlu diragukan lagi. Bahkan WHO pun mengeluarkan kajian tentang Marungga sebagai salah satu sumber alternatif untuk mengatasi malnutrisi.

Advertisements
Komisi IX DPR RI saat foto bersama usai menerima audiensi Tim Moringa Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Parlementaria/Munchen/nr)

Politisi dari F-Partai NasDem juga ini menilai adanya perbedaan yang signifikan antara prevalensi stunting proyeksi nasional dengan kondisi riil yang ditemukan dilapangan. Menurutnya, kasus stunting masih sering ditemukan di berbagai daerah. Karena itu, dibutuhkan penanganan multisektor dalam mengatasi stunting.

Sebelumnya, disampaikan bahwa Marungga NTT dapat menjadi alternatif solusi dalam penanganan stunting dan telah dibuktikan dari beberapa penelitian baik di Luar Negeri, di Indonesia maupun di NTT bahwa pemberian serbuk Marungga mampu meningkatkan berat dan status gizi. Selain itu, Marungga NTT merupakan yang terbaik di dunia setelah Spanyol.

Dengan memberikan serbuk Marungga NTT dalam penanganan stunting juga memberikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat secara kelompok maupun perorangan di Provinsi NTT. Tim Moringa juga mengusulkan agar Marungga NTT dapat dimasukkan dalam Permenkes untuk menjadi salah satu unsur tambahan olahan pangan pada menu PMT baik bagi balita maupun ibu hamil.

“Serta kami mohon dukungan mengalokasikan anggaran khusus untuk serbuk Marungga NTT baik secara lokal NTT maupun provinsi lain secara nasional diakomodir dalam paket PMT sebagai suplemen bahan makanan yang dapat membantu penyerapan zat gizi menjadi adekuat,” ungkapnya.

Menanggapi usulan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan akan menindaklanjuti permintaan tersebut kepada Kementerian Kesehatan. “Apabila ada hasil penelitian tentang daun kelor yang semakin sahih bagi pemerintah pusat, alangkah baiknya bahan itu bisa diberikan kepada kami untuk menjadi rujukan kepada pemerintah,” tandasnya.

Terkait anggaran, Melki menyebutkan pada tahun 2022 pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp44,8 triliun untuk mendukung program percepatan pencegahan stunting. “Kami juga setuju agar dana stunting didesentralisasikan saja dikirim ke daerah, sehingga tugas daerah untuk menggunakan dana tersebut berbasis pada kasus stunting lokal karena daerah yang lebih paham,” tandasnya.

Editor: Ton

Sumber: Parlementaria