Donor Plasma Darah Sembuhkan Pasien Covid-19, Danrem: Kami sudah Sering Sosialisasi, Respon Pemda Belum Ada

Jurnalis Pena NTT foto bersama Danrem 163/Wirasatya Husein Sagaf usai audensi

DENPASAR,MENITINI.COM Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Husein Sagaf meminta Pemda di Bali untuk merespon program plasma darah bagi pasien Covid19. Sambil menunggu antivirus  yang sedang disiapkan pemerintah, program plasma darah menjadi alternatif menekan jumlah pasien Covid-19 di Bali yang belakangan ini terus meningkat.

Hal ini disampaikan Husein Sagaf saat audensi dengan jurnalis yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (PENA) asal NTT di Makorem 163/Wirasatya Denpasar, Jumat (28/8/2020).

Menurut pria asal Makasar ini, anggota TNI dari Komando Resort Militer (Korem) 163/Wirasatya sudah menunjukan jalan untuk melakukan donor plasma darah bagi pasien Covid19. “Kami sudah sosialisasi beberapa kali. Hanya belum ada respon dari Pemda di Bali. Padahal, jumlah pasien sembuh di Bali saat ini sudah lebih dari 3 ribu orang. Bila Pemda respon maka sudah pasti banyak warga rela mendonorkan plasma darah bagi pasien Covid lain,” ujarnya seraya menjelaskan, anggotanya sudah melakukan hal itu dan diharapkan bisa diikuti masyarakat umum.

Selama ini sosialisasi baru dilakukan saat pasien sembuh yang hendak pulang ke rumah. Mereka memang diberikan penjelasan soal donor plasma dan diminta menjadi relawan yang mendonorkan plasma. Para pasien yang sudah sembuh itu hanya diminta mengisi formulir tanpa ditindaklanjuti oleh petugas.

Kemudian setelah dicek, ternyata para pasien ini mengalami banyak kesulitan seperti biaya perjalanan ke rumah sakit, penginapan dan biaya lainnya. “Ini masuk akal sebab banyak di antara pasien sembuh ini berasal dari luar kota. Kalau mereka ke Denpasar mereka butuh uang transportasi,  makan minum atau bahkan penginapan. Karena yang bisa melakukan donor plasma darah hanya  di RSUP Sanglah Denpasar,” ujarnya.

Bila Pemda di Bali proaktif maka masalah ini tidak ada kesulitan. Respon itu bisa dalam bentuk kebijakan dan anggaran. Kepala daerah tinggal mengeluarkan kebijakan dan anggaran agar para pasien yang sudah sembuh bisa dimobilisasi untuk melakukan donor plasma darahnya.

BACA JUGA:  Kasus Omicron Meningkat, Luhut Minta Orangtua Agar Anak-anak Segera Divaksin

Husein Sagaf menilai jika donor plasma darah sangat efektif saat ini sebagai salah satu cara mencegah Covid19. Sebab, antivirus yang akan diproduksi massal waktunya masih lama yakni sekitar Februari atau Maret 2021. Artinya, masih butuh waktu sekitar 6 sampai 7 bulan lagi.

Sementara aktivitas ekonomi terus terpuruk. Saat ini saja pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah minus 6 persen dan Bali sudah minus 11 persen. Dan kasus. positif di Bali terus terjadi meningkat signifikan.

Hingga sore ini jumlah kasus positif di Bali sudah mencapai 4.901 orang dan sebentar lagi mencapai 5 ribu orang. Sementara jumlah pasien sembuh sebanyak 4260 orang.

Jumlah pasien sembuh ini adalah sumber daya yang luar biasa untuk memutus rantai penularan Covid19. “Kita mau tunggu sampai kapan lagi kalau kita tidak bergerak sekarang dengan donor plasma darah. Pasien terus bertambah. Di Sanglah sudah siap menjadi bank plasma darah. Kami berharap Pemda lebih proatif terhadap hal ini,” ujarnya.

Seperti diketahui selama ini, memang belum ada obat yang terbukti aman dan efektif mengobati Covid-19. Namun, para peneliti telah membuktikan penggunaan plasma darah dari pasien Covid-19 yang telah pulih bisa mengobati orang lain yang menderita penyakit ini.

Melansir data Mayo Clinic, orang yang berhasil pulih dari Covid-19 mengandung antibodi. Antibodi merupakan molekul yang telah mengenali dan mampu melawan patogen, seperti virus, yang menyebabkan penyakit.

Itu sebabnya, peneliti berharap plasma darah dari orang-orang yang telah pulih dari infeksi virus corona bisa meningkatkan kesembuhan orang yang masih berjuang melawan virus tersebut.

BACA JUGA:  PN Denpasar Serahkan Sumbangan untuk Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok

Cara ini diharapkan dapat membantu sistem kekebalan tubuh pasien untuk memerangi virus dengan lebih efisien. Terapi pemberian plasma darah ini juga diklaim bisa mencegah komplikasi dari infeksi Covid-19. Maka dari itu, para ahli kesehatan berharap mereka yang telah pulih dari corona bisa mendonorkan darah untuk menekan angka kematian infeksi virus ini.

Riset Nasional AS Terapi plasma konvalensen untuk memerangi infeksi virus corona telah diuji oleh sekelompok peneliti dan dokter di AS. Penelitian yang diberi nama “Proyek Plasma Konvensional COVID-19 Nasional AS” itu telah diterbitkan dalam The Journal of Clinical Investigation pada Maret 2020.

Dalam riset itu, peneliti berpendapat terapi plasma darah konvalensen memiliki manfaat potensial untuk pengobatan Covid-19. Asal Mula Gagasan mengenai penggunaan plasma darah ini telah ada sejak akhir abad ke 19 ketika fisiolog Emil von Behring dan ahli bakteriologi Kitasato Shibasaburou menemukan antibodi yang ada dalam komponen darah untuk melawan infeksi bakteri diptheria.

Sejak saat itu, dokter telah menggunakan terapi antibodi ini untuk mengobati atau mencegah infeksi bakteri dan virus, termasuk bentuk pneumonia, meningitis, dan campak. “Jadi itu ide lama, dan saya pikir penelitian ini bertujuan untuk mengingatkan teman-teman saya, pihak berwenang, terapi ini mengatasi pandemi ini,”  kata Dr. Arturo Casadeval, pemimpin riset.

Penelitian terbaru telah menunjukkan orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 telah mengembangkan antibodi yang dapat bereaksi terhadap virus corona. “Sekarang ada beberapa penelitian yang menunjukkan ketika orang pulih dari virus, mereka memiliki antibodi penawar darah yang mampu membunuh,”ujarnya poll

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*