Kamis, 18 Juli, 2024
Cokelat nabati apakah lebih sehat?

Cokelat nabati apakah lebih sehat? (Foto: pexels)

DENPASAR, MENITINI.COM – Tren hidup lebih sehat abad ini begitu dimanjakan dengan kehadiran banyak produk alternatif. Bagi penggemar cokelat, kehadiran varian tanpa susu sapi cukup mendapat sambutan baik. Cokelat tanpa susu sapi, bagaimana bisa?

Berbeda dengan dahulu, industri pangan makin kreatif menghadirkan rasa dan bahan pengganti yang dapat melengkapi suatu makanan tanpa merusak cita rasanya. Sama halnya dengan cokelat, opsi cokelat nabati menggunakan susu oat memberikan kesempatan bagi orang yang memiliki kebutuhan diet khusus untuk tetap makan cokelat tanpa rasa berdosa. Misalkan mereka yang alergi laktosa, ataupun memilih gaya hidup vegan. Lalu apakah benar lebih sehat? Simak rangkuman fakta berikut!

Penggunaan Susu Oat dalam Cokelat Nabati

Susu oat memang belum terlalu populer di Indonesia. Ada pun di supermarket pasti harganya masih mahal. Berbeda dengan negara Paman Sam. Pada tahun lalu, penjualan eceran susu oat meningkat lebih dari 50%. Susu oat sendiri terbentuk dari cairan yang tersisa dari rendaman oat atau gandum-ganduman. Rasanya yang gurih memberikan sentuhan yang khas pada olahan makanan dan minuman yang pada umumnya berbasis susu sapi.

Banyak cafe sudah menggunakan susu oat sebagai campuran dalam resep mereka. Karena ketenaran ini, mulai bermunculan produsen cokelat yang mencoba menawarkan cokelat berbasis susu oat. Tentu pasar utamanya adalah orang dengan kebutuhan diet khusus dan vegan. Jika dibandingkan dengan produk alternatif susu lainnya, mereka cenderung lebih menikmati karena teksturnya yang lembut tanpa menggantikan kandungan nutrisi. Dalam satu suguhan berbasis susu oat, Anda dapat memenuhi kebutuhan beberapa jenis serat dan zat besi sekaligus.

BACA JUGA:  Minyak Zaitun Turunkan Risiko Kematian Terkait Demensia

Apakah Cokelat Nabati Lebih Sehat?

Pilihan untuk menjadikan cokelat sebagai bagian dari diet Anda bergantung pada kebutuhan nutrisi dan tujuan kesehatan Anda. Cokelat bisa menjadi sumber tambahan kalori, lemak, dan gula. Jika Anda mencoba mengurangi asupan gula atau mengatur berat badan, maka cokelat bukanlah sahabat diet Anda. Selama sebagian besar makanan pada hari itu diisi dengan makanan sehat dan bergizi, sedikit cokelat dalam bentuk, rasa, atau sajian apa pun bukan menjadi masalah.

Ada beberapa manfaat menikmati cokelat dalam jumlah sedang. Cokelat apa pun yang dibuat dengan padatan kakao asli memiliki beberapa mikronutrien seperti magnesium dan tembaga serta senyawa flavonoid. Penelitian telah menunjukkan bahwa flavonoid terkait dengan penurunan risiko penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, dan kanker.

Jika kita bandingkan cokelat klasik dengan cokelat nabati, keduanya memiliki kekayaan nutrisi yang sama. Hanya saja, pada cokelat nabati memiliki kandungan protein sedikit lebih besar dan lebih ramah bagi penderita alergi susu sapi. Terkait kandungan tambahan gula, baik cokelat klasik maupun nabati juga memiliki tambahan yang serupa, yaitu gula buatan dan lemak jenuh. Jadi, perkara lebih sehat tidaknya tergantung kebutuhan diet masing-masing.

BACA JUGA:  Menghitung Langkah vs Durasi Olahraga, Pilih Mana?

Bagaimana Pendapat Ahli Gizi?

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang menganggap barang-barang dengan label nabati sebagai kurang kalori atau lebih padat nutrisi, meski tidak selalu demikian. Ahli gizi pun ragu menyebut opsi nabati dalam produk cokelat lebih baik dibandingkan dengan yang klasik.

Jaclyn London, MS, RD, CDN, seorang ahli gizi menyebutkan, jika kita menilai berdasarkan label nutrisi pada kemasan, tidak ada keunggulan antara produk cokelat nabati dan klasik. Alih-alih banyak produk cokelat nabati yang menggunakan gula atau gula buatan yang lebih tinggi, Belum lagi menilai dari segi penggunaan lemak jenuh. Pada cokelat nabati kandungan lemak jenuhnya lebih tinggi karena menggunakan cocoa butter sebagai komponen utama, sedangkan pada cokelat klasik sebagai pendukung saja.

Hal ini memaparkan bahwa penggunaan kata nabati hanya sebagai bagian dari strategi marketing saja. Sebenarnya tidak salah jika kita ingin mencoba opsi nabati, namun jika Anda tidak memiliki kebutuhan diet khusus, lebih baik bertahan pada opsi klasik saja. Jangan terkecoh dengan label nabati lalu menjadi alasan Anda menjadikannya sebagai cemilan sehat.

BACA JUGA:  Minyak Zaitun Turunkan Risiko Kematian Terkait Demensia

Haruskah Anda Beralih ke Cokelat Nabati?

Bagi orang-orang yang mencoba menuai manfaat kesehatan dari makan lebih banyak pola makan nabati, mungkin akan sedikit terkecoh. Karena mengikuti pola makan nabati tidak berarti menghindari produk hewani sama sekali. Mereka masih bisa menyertakan cokelat dan susu dalam moderasi jika mereka mau.

Orang-orang yang mungkin paling mendapat manfaat cokelat nabati adalah mereka yang harus benar-benar bebas susu seumur hidup karena alasan kesehatan. Perlu dicatat, tidak semua orang yang alergi susu sapi berarti otomatis alergi cokelat susu. Reaksi alergi mereka bergantung pada seberapa banyak campuran susu dalam produk cokelat itu sendiri.

Selama sebagian besar makanan dan camilan Anda penuh dengan makanan sehat yang lezat dan bergizi, Anda dapat mengkonsumsi cokelat dengan aman. Pada akhirnya, cokelat berbasis susu sapi atau alternatifnya tetap termasuk dalam kategori permen. Anda harus memutuskan sendiri apakah perlu memasukkannya ke dalam program diet Anda atau tidak. Termasuk cokelat berbasis susu oat memang digadang dapat memberi alternatif gizi, namun pastikan sesuai dengan diet yang Anda jalani ya! (M-010)