Bupati Robi Lalai Sampai Terjadi KLB DBD di Sikka

Siflan Angi Bekas Anggota DPRD tiga periode

Harapan Siflan bila perlu pemerintah rangkul semua pemangku kepentingan di Kabupaten Sikka,  sama sama memikirkan dan mengajarkan dan pola hidup bersih, makan sehat dan tidak membuang sampah semabarangan kepada masyarakat. ”Setiap maslah muncul mesti fokus. Jangan ngambang, Masyarakat tidak boleh jadi korban karena kelalaian pemerintah dan negara,”kecamnya sembari mengingatkan setelah DBD beberapa bulan ke depan akan terjadi rawan pangan dan masyarakat kelaparan. “Pemerintah mesti segera pikirkan itu.  Solusinya bukan siapkan raskin, pasar murah dan dan beras murah. Segera pikirkan, dan ini tugas bupati sebagai kepala daerah,” kata caleg Nasdem yang belum lolos ke DPRD provinsi tahun lalu.

BACA JUGA:  Prabowo Terima Sekjen PBB António Guterres di Hambalang, Bahas Kerja Sama Multilateral

Sumber MENITINI di RS TC Hillers mengatakan jumlah penderita yang tercatat saat ini 1190. 13 meninggal. “Penderita DBD terbanyak di Kecamatan Magepanda fan Kecamatan Nita. Pada umumnya semua kecamatan sudah tertular wabah DBD,”tulis melalui pesan singkat WA tadi pagi (10/3/2020) sembari meminta namanya tidak ditulis. Penyebanya karena lingkungan tidak bersih sehingga nyamuk berkembang biak.”Kebersihan yang masih kurang juga menjadi sarang nyamuk,”tulisnya

BACA JUGA:  BPGMN Fokus Kelola Gambut untuk Tekan Kebakaran Hutan dan Lahan

Perawat ini malah memuji Bupati Robi karena aktif turun ke masyarakat sejak awal DBD di Sikka Januari lalu, “Bupati sejak awal memantau info DBD. Termasuk mengantisipasi agar jangan sampai ada informasi hoaks soal DBD di Sikka. Bupati dengan masyarakat sangat  dekat,”katanya menjelaskan semua pasien DBD dirawat RS TC Hillers, RS Kewapante dan RS Lela. “Di RS TC Hiller paling banyak pasiennya. Bahkan di puskesmas juga dilakukan perawatan dan observasi secara ketat,”kata perawat perempuan berusia 35 tahun ini poll

Halaman 2 dari 2
Scroll to Top