Dalam penyelenggaraan ini, TNI AL berperan penting dengan menghadirkan pemahaman mendalam mengenai karakteristik perairan Indonesia. Mulai dari analisis arus laut, pola cuaca, hingga kondisi spesifik di kedua lokasi menjadi bagian dari dukungan operasional yang diberikan.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menegaskan, dukungan pengamanan dan operasional dari TNI AL menjadi bagian penting dalam menunjukkan kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah ajang olahraga dunia.
TNI AL juga akan mengerahkan armada serta personel gabungan dari berbagai satuan, termasuk penyelam yang akan tergabung dalam tim penyelamat (rescue diver) bersama tim Red Bull Blue & Silver. Mereka akan bersiaga penuh untuk menjamin keselamatan para atlet.
Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat tampil maksimal meski menghadapi tantangan ekstrem. Dalam kompetisi ini, atlet perempuan akan melompat dari ketinggian 21 meter, sementara atlet pria dari 27 meter—hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan loncat indah Olimpiade.
Selain aspek teknis dan keselamatan, penyelenggaraan ajang ini juga melibatkan pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Klungkung dan Buleleng, di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi Bali, memastikan kegiatan ini memberi dampak positif berkelanjutan bagi daerah.
Gubernur Bali I Wayan Koster menyebut ajang ini sebagai kehormatan bagi Pulau Dewata. Menurutnya, Red Bull Cliff Diving World Series tidak hanya menampilkan aksi atlet kelas dunia, tetapi juga menjadi sarana promosi keindahan alam Bali ke panggung global.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya dalam setiap penyelenggaraan event internasional di Bali.
Setelah seri pembuka di Bali, kompetisi akan berlanjut ke sejumlah negara, yakni Amerika Serikat, Denmark, Bosnia & Herzegovina, Italia, hingga ditutup di Oman pada November 2026. (M-011)