Bakteri Lokal Penghasil GABA Cegah Hipertensi, Begini Penjelasannya

I Wayan Nuraini saat sedang presentasi soal bakteri penghasil GABBA.
I Wayan Nuraini saat sedang presentasi soal bakteri penghasil GABBA.

DENPASAR,MENITINI.COM-Akademisi Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali I Wayan Nursini menemukan, bakteri lokal penghasil GABA. GABA adalah asam amino non-protein yang diproduksi melalui dekarboksilasi glutamat oleh enzim glutamate dekarboksilase. Bakteri lokal penghasil GABA tersebut yaitu Lactobacillus rhamnosus SMM37.

“Lactobacillus rhamnosus merupakan strain yang diisolasi dari susu kuda Sumbawa yang sudah terfermentasi” kata Nursini di Denpasar, Kamis (8/2022. Nuraini juga sudah menyampaikan hasil penelitiannya dalam sidang terbuka promosi doktor Prodi Ilmu Pertanian, Universitas Udayana beberapa waktu lalu.

Menurut Dosen Prodi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan, Sains dan Teknologi, Undhira ini, GABA dari sumber daya alam sulit diisolasi dan jumlahnya juga kecil dalam bahan makanan. Hal ini mendukung pemanfaatan mikroorganisme untuk menghasilkan GABA. Tujuan awalnya adalah melakukan skrining lactobacillus untuk mendapatkan strain lokal yang berpotensi menghasilkan GABA dan dapat diaplikasikan pada susu fermentasi.

BACA JUGA:  Waspada! Omicron sudah Masuk Bali, Virolog Unud Minta Bali Segera Miliki 15 Unit PCR Otomatis

Wanita kelahiran Kesiman, Denpasar, 28 November 1981 mengungkapkan Lactobcaillus rhamnosus SMM37 strain stater susu fermentasi mampu menghasilkan GABA tertinggi dengan lama fermentasi 48 jam pada suhu 370C dengan pH awal 8 menggunakan 1% sukrosa, 1% yeast, dan 10 mM PLP. GABA memiliki efek fungsional dalam tubuh untuk mengatasi sindrom metabolik seperti jantung

koroner, diabetes mellitus, artherosclerosis dan hipertensi. 

Menurutnya, GABA secara alami terdapat pada sel otak mamalia, tumbuhan dan dapat diproduksi oleh bakteri. GABA dapat disintesis secara kimiawi, enzimatis dan fermentasi. Produksi GABA secara kimia tidak diinginkan oleh industri pangan karena menghasilkan produk sampingan yang bersifat korosif sehingga perlu mencari sumber GABA yang aman seperti bakteri asam laktat (BAL)

BACA JUGA:  Gangguan Toleransi Glukosa?

Ia menjelaskan bahwa produksi GABA dari masing-masing BAL bersumber dari berbagai makanan, minuman, sayuran dan saluran cerna manusia sehat. Oleh karena itu perlu melakukan skrining BAL isolat lokal Indonesia yang mampu menghasilkan GABA dan dapat diaplikasikan pada produk fermentasi menjadi pangan fungsional.

“Pengembangan pangan fungsional didasari dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan sehingga mendorong pengembangan pangan fungsional yang dapat memberikan efek kesehatan seperti antikanker, antihipertensi, antiobesitas dan antibakteri,” jelas Nursini. 

Sementara Prof. Nyoman Semadi Antara, menyampaikan hasil penelitian Nursini sangat bermanfaat bagi perkembangan keilmuan, khususnya di bidang teknologi pangan. Penelitian ini tentunya juga akan berguna bagi para mahasiswa.

BACA JUGA:  Diet Bukan Berarti Mengurangi Makan, Begini Caranya

“Selanjutnya nanti ini juga akan dibawa untuk pengembangan keilmuan secara individual dirinya sendiri dan juga pengembangan ilmuwan untuk anak didik kita” paparnya. M-006