logo-menitini

Awas! Pandemi Merangsang Perilaku Agresif

ilustrasi perilaku agresif

Kaitan Pandemi dan Perilaku Agresif

Berdasarkan penelitian dari Murdoch University, peningkatan perilaku agresif ternyata memiliki kaitan dengan pandemi, lho! Salah satu teori yang diterima saat ini adalah Frustation Agression Hypothesis (FAH). Teori ini memiliki landasan tertutupnya akses tujuan menyebabkan frustasi. Frustasi berlarut-larut menyebabkan kemarahan terpendam. Ketidakmampuan mengatasi kemarahan terpendam terwujud dalam bentuk agresi. Kontinuitas ini dapat meningkatkan adrenalin dalam tubuh manusia. Pada kondisi ini jika individu mendapat rangsang yang sesuai dengan penyebab frustasi utamanya walau sedikit dapat terjadi perilaku agresif.

BACA JUGA:  Layanan Kesehatan Mental Digital Dinilai Jadi Solusi Akses dan Stigma di Indonesia

Sekarang kita telaah dengan kondisi pandemi!

Sudah lebih dari 2 tahun kita bergelut dengan pandemi yang tidak jelas ujungnya. Regulasi yang ada terus berubah. Dari poin tersebut sudah dapat menimbulkan frustasi pada seseorang. Pencetus agresi? Tambahan varian yang terdengar tiap saat seperti launching smartphone, ketidakpastian ekonomi, ketakutan dan pembatasan sosial. Dari seluruh faktor tersebut, manusia menjadi terbatas ruang geraknya dan merasa tidak dapat memecahkan frustasinya. Sama seperti pandemi yang memiliki puncak, kondisi ini suatu waktu akan memuncak dan terwujud sebagai perilaku agresif jika tidak dapat mengontrol mekanisme coping dengan baik.

BACA JUGA:  Deteksi Dini Katarak Jadi Kunci Cegah Kebutaan, Warga Desa Lebih Jalani Pemeriksaan Mata Gratis
Iklan

BERITA TERKINI

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>