Anda Pemilik Usaha? Waspadai Quiet Quitting pada Karyawan!

Quiet Quitting, pengusaha perlu waspada - pexels
Quiet Quitting, pengusaha perlu waspada - pexels

DENPASAR, MENITINI.COM – Fenomena quiet quitting ramai kita dengar di media sosial akhir-akhir ini. Terdengar seperti kekinian padahal sama sekali bukan fenomena baru di kalangan karyawan. Konsep keterlibatan karyawan yang rendah sebagai imbas mikromanajemen telah ada selama beberapa dekade tanpa kita sadari. Hal ini bukan hanya sekedar mager kerja. Lalu mengapa tren ini kembali bergaung lebih heboh?

Tercatat oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melalui Forbes, produktivitas tenaga kerja selama Triwulan 2 tahun ini menunjukkan penurunan terbesar dari tahun ke tahun sejak tahun 1982. Bedanya pada tahun 1982 akibat kekurangan pasokan pekerja dan inflasi global besar-besaran. Nah, menyoal quiet quitting sendiri, apa sih itu? Jangan-jangan Anda sedang tidak sadar melakukannya?

Apa itu Quiet Quitting?

Tidak ada batasan atau definisi pasti menurut kamus. Definisi tentang quiet quitting lebih kepada diksi urban. Intinya sebagian besar berfokus pada menetapkan batasan realistis yang mencegah kelelahan, atau tidak bekerja selain pada jam kerja atau pada tempat kerja. Definisi ini ingin menegaskan konsep bahwa sebagai pekerja, kita juga memiliki hak untuk berkuasa atas pekerjaan kita, bukan sebaliknya.

Poin pentingnya jika kita bandingkan dengan pembatasan biasa, quiet quitting lebih merupakan tindakan aktif dan dapat memberikan hasil positif baik bagi karyawan maupun atasan. Tidak jarang, tindakan ini adalah sebagai upaya pertahanan diri karyawan sembari mencari prospek pekerjaan yang lebih baik. Apalagi jika dalam lingkungan kerja mikromanajemen dan karyawan merasa tidak dihargai. Tren penghargaan pun sudah bergeser, dari orientasi jabatan menjadi orientasi finansial. Fenomena ini mulai timbul akibat banyak atasan yang mengupah high value jobs minimalis.

Apakah atasan Anda salah satunya? Atau Anda sebagai pemilik usaha bertindak demikian dengan alasan efisiensi? Maka Anda harus berhati-hati. Mencari karyawan memang mudah, namun perusahaan yang bongkar pasang karyawan terlalu sering kredibilitasnya akan menimbulkan pertanyaan. Saat inilah pentingnya meningkatkan engagement dari pekerja.

BACA JUGA:  AS Laporkan Lebih dari 17.000 Kasus Cacar Monyet

8 Langkah Pencegahan Quiet Quitting

Ada 8 langkah yang dapat Anda ambil untuk meningkatkan engagement dan mencegah quiet quitting pada pekerja. Ragam langkah ini patut dicoba mengingat tipe karyawan satu dan lainnya dapat berbeda. Apalagi jika bekerja pada industri yang dinamis.

1.Jangan Menekankan Quiet Quitting di Gen Z

Tantangan keterlibatan karyawan dimulai jauh sebelum ada yang namanya Gen Z atau media sosial. Pemimpin yang efektif tidak menganut stereotip generasi atau lainnya. Sebaliknya, mereka menganggap setiap karyawan sebagai individu yang unik dengan serangkaian kebutuhan dan prioritas mereka sendiri, dan mereka mempertimbangkan dampak dari quiet quitting di seluruh organisasi. Bukan berarti hanya Gen Z saja yang lebih beresiko ya.

2.Menggandakan Pengalaman Karyawan

Pengalaman karyawan adalah jumlah momen yang penting dalam kehidupan sehari-hari karyawan dalam sebuah organisasi. Hal ini adalah tentang terinspirasi oleh tujuan organisasi, menjalin hubungan dengan rekan kerja dan pemimpin, melakukan pekerjaan yang berarti, dan merasa dihargai secara adil. Para pemimpin yang efektif menggunakan elemen-elemen kunci ini untuk memberi energi kembali kepada para pekerja, terutama ketika organisasi mereka mengalami perubahan. Sudah banyak perusahaan di luar negeri yang menerapkan work-life balance experience dalam suasana kantor mereka. Indonesia sampai mana?

3. Fokus pada Tujuan

Tujuan yang jelas memiliki kekuatan untuk memotivasi karyawan dengan cara yang unik. Jajak pendapat pada Desember 2021 melaporkan bahwa karyawan akan 2x lebih mungkin bertahan pada organisasi yang memiliki tujuan jelas dan 4x lebih terlibat. Pemimpin yang efektif menekankan tujuan, visi, nilai perusahaan, dan membantu karyawan menjalin hubungan dengan tujuan individu dan penghargaan atas bagaimana kontribusi mereka berdampak pada organisasi dan kinerjanya. Jika usaha Anda melibatkan high value jobs (dokter, arsitek, ilmuan, advokat) namun masih menerapkan sistem paid hourly, akan mustahil untuk menanamkan nilai dan meningkatkan keterlibatan karyawan.

BACA JUGA:  Beda Kelas Beda Kenaikan, Terkait Kenaikan Iuran BPJS

4. Right People in Right Place untuk Manajerial

Manajer dan pemimpin harus mampu berada dibawah tekanan sebagai navigator untuk melalui tantangan baru. Karyawan jelas bergantung pada mereka dan cara mereka berhubungan. Untuk mengurangi mikromanajemen, penting untuk menerapkan right people in right place. Bukan semata-mata efisiensi, atasan harus memastikan setiap orang yang berada pada posisi manajerial mampu menyelesaikan masalah dengan ketergantungan minimal. Masih sering kita menemukan manajer divisi yang tidak mampu bekerja sendiri atau malah melempar pekerjaan pada orang lain. Ketika hal ini terjadi, manajer hanya akan menambah masalah, bukan membantu atasan menjadi problem solver. Ada yang seperti itu? Masih banyak

5. Mengatasi tantangan kerja yang fleksibel

Pandemi menyadarkan bahwa bekerja kantor tidak lagi relevan. Pemimpin yang efektif mampu menyeimbangkan pekerjaan jarak jauh dan kantoran, sekaligus membantu karyawan menemukan keseimbangan baru. Perubahan harus dipandang sebagai upaya yang meningkatkan kinerja positif dengan efektif dan efisien. Penting juga menekankan bahwa pemilik usaha tidak bisa semena-mena memberi lebih banyak tugas pada karyawan. Hal ini sering sekali terjadi akibat tenaga kerja yang kurang atau pasca pemutusan kontrak atas nama efisiensi. Ingatlah bahwa pekerja adalah aset, bukan robot yang harus meluangkan waktu 24/7.

6. Transformasi gaji dan tunjangan

Untuk mengurangi frekuensi pergantian dan quiet quitting, para pemimpin harus melakukan penyesuaian gaji dan tunjangan. Inflasi terus menerus tentu membuat pergeseran nilai uang dan jasa. Ingat bahwa karyawan memberikan kontribusi jasa dan waktu pada perusahaan. Anda sebagai pemilik usaha tentu bukanlah apa-apa tanpa karyawan. Pembaharuan ini memastikan bahwa upah kompetitif dan adil dalam pasar tenaga kerja yang dinamis. Anda tentu harus memutar otak untuk diversifikasi bila satu usaha tidak mencukupi untuk mengupah karyawan dengan layak. Jangan hanya dengan alasan efisiensi lalu malah mempersilakan karyawan keluar sukarela.

BACA JUGA:  Varian Omicron Meningkat Signifikan, Sekda: Pintu Masuk Diperketat, Semua ASN Wajib Test Antigen

7. Mendengarkan karyawan

Pemimpin yang efektif tahu bahwa karyawan sangat menghargai ketika didengar, dilihat, dan dipahami. Penting untuk memastikan karyawan dalam lingkungan yang aman untuk berbagi perspektif dan sama pentingnya sastu sama lain. Melibatkan karyawan melalui meeting formal dan informal secara teratur, mengakui kebutuhan dan kekhawatiran, berkomunikasi dengan empati dan transparansi dapat menggali kesadaran dan pengakuan. Arahnya adalah sense of belonging dari karyawan sehingga berminat memberi keterlibatan yang lebih besar dan kemungkinan yang lebih kecil untuk quiet quitting.

8. Fokus pada kesejahteraan

Penelitian menunjukkan 30% pekerja masih berjuang secara finansial, 43% mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, dan 62% merasa lelah karena pekerjaan. Para pemimpin yang efektif berusaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan yang unik, dan mendorong keamanan fisik-psikologis yang memungkinkan karyawan untuk tetap terlibat dan berkembang. Saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan wellness strategy bagi karyawannya. Namun sisanya masih menganggap wellness strategy adalah pengeluaran tambahan, padahal perlu diingat, karyawan bukan robot yang tidak punya kebutuhan lain. Strategi ini juga berguna untuk mengurangi munculnya lingkungan toksik.

Jadi Anda tipe karyawan dan atasan yang seperti apa? Apakah Anda saat ini sedang quiet quitting? Ataukah Anda sedang bergumul dengan banyaknya jumlah karyawan yang quiet quitting terhadap Anda? Ingat, untuk urusan ini bukan melulu soal kuasa dan mana yang lebih kuat mempertahankan ego. Ada baik buruknya bagi citra perusahaan yang Anda pimpin. Bagi karyawan yang sedang quiet quitting, hanya Anda yang paham batasan sejauh mana Anda dapat bertahan. Jangan segan mencari prospek yang lebih baik demi kesejahteraan Anda. Mari sama-sama berintrospeksi! (M-010)