“Pengelolaan sampah harus terpadu. Kami ingin kawasan strategis seperti Jimbaran dan sekitarnya tertata dengan baik, bersih, dan tidak terkesan kumuh,” tegasnya.
Aksi bersih pantai ini melibatkan sekitar 60–70 pelaku usaha di kawasan Jimbaran, krama banjar, serta unsur desa adat. Kegiatan tersebut dipimpin langsung prajuru Desa Adat Jimbaran sebagai langkah antisipasi rutin menghadapi sampah kiriman tahunan.
Bendesa Adat Jimbaran I Putu Subamia menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud implementasi nilai Tri Hita Karana, khususnya Palemahan, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Ia menyebut, peningkatan sampah kiriman di Pantai Muaya kerap terjadi setiap musim barat.
“Jenis sampah yang paling banyak adalah kayu kiriman dan plastik. Karena itu kami melibatkan hotel, pelaku usaha, prajuru, dan kepala lingkungan untuk turun langsung membersihkan pantai,” ujarnya.
Selain aspek lingkungan, kegiatan ini juga mencerminkan nilai Pawongan, yakni semangat kebersamaan dan gotong royong. Ke depan, Desa Adat Jimbaran berencana menjadikan aksi bersih pantai sebagai agenda rutin selama musim sampah kiriman.
“Kemungkinan bisa dua kali seminggu sampai menjelang Nyepi. Harapannya pantai cepat bersih, ikon Jimbaran tetap terjaga, dan wisatawan merasa nyaman,” kata Subamia.*
- Editor: Daton









