Air Laut Pasang Hancurkan Tepi Pantai Kuta, Dampaknya Penurunan Elevasi Walkway 

BADUNG,MENITINI.COM– Air laut pasang yang tinggi membuat salah satu titik walkway Pantai Kuta mengalami penurunan elevasi, yaitu di  depan Jalan Popies I. Titik tersebut diketahui merupakan bekas dari alur kanal air yang sudah tidak berfungsi, sehingga  rawan tergerus. Selain pedesterian, bibir pantai juga kembali compang-camping akibat tergerus pasang.

Koordinator Regu 4 Satgas Pantai Kuta, Made Oka Adnyana membenarkan kondisi tersebut. Gelombang air pasang laut memang sempat menghantam daratan Pantai Kuta selama dua hari terakhir, bahkan air laut sempat masuk  area kantor Satgas Pantai Kuta. Namun saat ini kondisi gelombang laut di Pantai Kuta mulai normal. 

Sapuan gelombang tersebut membuat daratan Pantai Kuta kembali compang-camping pasca ditata Dinas PUPR. Hal itu membuat wisatawan  terbatas  melakuian aktivitas di pantai. 

BACA JUGA:  Sikapi Pengendara Bandel, Petugas Pasang 10 Rambu Larangan Parkir di Pantai Kuta

Ia berharap kondisi tersebut dapat segera ditangani, mengingat kunjungan ke Pantai Kuta cukup ramai. Pihaknya juga mengimbau wisatawan dan pedagang pantai untuk selalu berhati-hati terkait gelombang pasang laut. “Kami mengantisipasi kondisi ini dengan pengeras suara, mengimbau semua pihak yang beraktivitas di pantai untuk selalu waspada,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas PUPR Badung, IB Surya Suamba membenarkan pasang air laut yang terjadi belakangan berdampak pada aset insfrastruktur  milik Pemkab Badung,  dan kondisi pasir di pesisir pantai. Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Pantai Kuta namun juga beberapa pantai barat, termasuk di Pantai Pandawa. 

“Untuk di Pantai Kuta yang terdampak ada salah satu titik walkway yang mengalami penurunan elevasi. Selain itu kondisi pasir pantai juga tergerus kembali. Di Pantai lain juga relatif sama, sebab ini kan karena faktor alam dan hampir semua pantai mengalami,” ujarnya.

BACA JUGA:  Menuju World Water Forum di Bali 2024, Lemhanas RI Bahas Ketahanan Air  

Terkait  kerusakan minor yang terjadi di walkway Pantai Kuta, pihaknya mengaku masih mengkaji dan observasi. Sesuai kontrak ketentuan yang berlaku, apabila kerusakan itu diakibatkan oleh kesalahan kontruksi maka hal itu masih menjadi tanggungjawab dari kontraktor. 

Namun bila hal itu diakibatkan faktor yang tak bisa diprediksi seperti faktor alam  itu akan dikerjakan  pemda karena tidak termasuk ketegori pemeliharaan.

“Saat ini kita sedang kaji hal itu. Apakah itu disebabkan oleh bencana atau adanya kesalahan pelaksanaan. Setrlah itu kita ketahui baru bisa kita simpulkan pengerjaan perbaikannya, apakah masuk pemeliharaan atau bukan. Tapi intinya itu akan segera kita perbaiki. Mungkin minggu depan, saat ini kita masih proses administrasi dan pengecak,” tegasnya.

BACA JUGA:  Pemerintah Angkat Kebijakan Tata Ruang DAS pada Proses Politik 10th World Water Forum

Sementara untuk kondisi pasir yang tergerus, pihaknya akan melakukan perataan pasir untuk mengembalikan kondisi seperti sebelumnya (sebelum diterjang pasang laut). 

Hal itu dilakukan sambil menunggu pengisian pasir lanjutan yang rencananya akan dikerjakan BWS Bali Penida mulai bulan Mei 2024. 

Perataan pasir dari Pemkab Badung akan diusulkan untuk semua pesisir di wilayah barat, mulai dari Kuta hingga Canggu. Adapun dana yang dipergunakan nantinya akan diusulkan melalui dana kebencanaan di BPBD, karena kejadian tersebut tergolong bencana alam. (M-003)

  • Editor: Daton