VIDEO: Tolak Virus Corona, Ratusan Warga Wailolong Gelar Ritual di Pohon Beringin Berpenjaga Ular Mistis

WAILOLONG, MENITINI.COM- Masyarakat Desa Wailolong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT menggelar ritual adat “Liko Lewo, Lapak Tanah” (melindungi tanah kelahiran-red) agar terhindar dari wabah pandemi virus corona, Kamis (26/3/2020),

Ritual ini dipimpin tuan tanah (raja tua’n) dan lima kepala suku di desa setempat (daton,ritan,hurint,doren waton).

Ritual berlangsung 2,5 jam di Dua’n Aho Ame (tempat sakral yang ditumbuhi pohon beringin besar-red) diikuti ratusan warga Desa Wailolong, khususnya laki laki.

Pantauan Menit ini, ketika ritual sakral itu berlangsung seketika hujan turun.

Namun, uniknya hujan yang turun di sekitar lokasi ritual adat.

Gading sebagai sarana upacara ritual di dua tempat sakral

Diyakini, hujan yang turun itu sebagai pertanda segala hal yang buruk termasuk, mewabahnya virus corona telah dijauhkan dari warga di Desa Wailolong.

Menurut Yohanes Belawa Daton, bagi masyarakat setempat Dua Aho Ame diyakini sebagai tempat berstana leluhur yang sering berubah wujud seperti ular, kadal dan binatang-binatang jenis lain.

“Dan penjaga utamanya seekor ular besar yang berada di rongga pohon beringin,” kata Yohanes Belawa Daton, yang juga kepala raja tua’n sembari menyebutkan, hanya laki laki yang boleh masuk dalam areal sakral itu.

Warga mengikuti ritual di Dua Aho Ame

“Tradisi ini warisan leluhur kita. Dan sebagai generasi penerus mesti percaya dan terus kita lestarikan. Tradisi serupa pernah leluhur kita lakukan tahun 1918 ketika wabah kolera menjadi pandemi saat itu,” kata pria 77 tahun yang akrab disapa Ba Belawa.

Setelah ritual di dua’n Aho Ame, ritual selanjutnya juga dilakukan di ‘Mada Belen” (pintu masuk desa) yang diyakini oleh masyarakat Wailolong sebagai pintu masuk para penjaga kampung.

Sebelum ritual dilakukan di “Mada Belen”, perwakilan lima suku berjalan keliling desa membawa sesajen sambil memukul gong.

Warga mengibung di Mada Belen usai upacara

“Ini mengingatkan kepada masyarakat bahwa ritual di kampung segera mulai sehingga tak dibolehkan keluar dari desa sebelum selesai acara,” kata Ba Belawa.

Lanjutnya, karena ritual di dua tempat sakral ini membunuh kurban hewan persembahan untuk leluhur, maka yang memegang kepala kurban hewan suku Daton atau raja tuan.

Yang pegang ekor, suku Kelen atau suku Ritan. Sementara yang memotong leher hewan kurban yakni suku Hurint sebagai ajudan tuan tanah alias raja tua’n

“Kalau tiga perwakilan suku ini; Daton, Ritan, Hurint, salah satunya tidak ada, ritual ini tidak bisa jalan. Ketiganya mesti hadir karena punya peran dalam memotong hewan kurban,”ujarnya

Ketua Lembaga Adat Desa Wailolong, Frans Ratu Hurint mengatakan, ritual ini sudah ada sejak zaman leluhur di desa kita.

“Bagi Desa Wailolong ritual ini harus dilakukan karena untuk “liko lapak Lewo tanah we” (melindungi kampung halaman) biar masyarakat di desa kita terhindar dari segala macam penyakit. Selain itu, saran pemerintah dan pola hidup sehat harus tetap dijalankan,” kata mantan Kepala Sekolah SDK Desa Wailolong ini.

Sementara Kepala Desa Wailolong, Vinsensius Bugis Hurint setiap malam selalu mengumumkan kepada warganya mengenai informasi update berkaitan dengan pencegahan Covid 19 yang diperoleh dari pemerintah Kecamatan Ilemandiri atau dari pemerintah Kabupaten Flores Timur.

“Pencegahan dengan cara kesehatan atau medis tetap kita jalankan. Bila ada informasi terbaru dari instansi terkait, kami umumkan kepada masyarakat melalui pengeras suara dari kantor Desa pada malam hari,”kata Vinsensius Bugis.

Berkaitan dengan ritual “Liko Lewo, Lapak Tanah” ini justru inisiatif dari Kepala Desa dan aparat. Tiga hari sebelum ritual kepala desa mengundang lima kepala suku di desa untuk membicarakan upaya dari sisi niskala (tak kelihatan).

Akhirnya disepakati hari Kamis, (26/3/2020) dilaksanakan ritual tersebut.

“Semua upaya kita lakukan biar seimbang. Pencegahan dari sisi medis jalan dan ritual kepada alam dan leluhur juga jalan,” katanya di sela sela acara.

Untuk merespon surat dan imbauan dari pemerintah, kepala desa milenial ini memerintahkan petugas Linmas desa agar pintu masuk desa dipasang gate untuk memantau pergerakan setiap orang termasuk barang barang yang masuk ke Desa Wailolong.

Bahkan bila sudah diatasi jam 10 malam, masih ada warga desa yang jalan jalan atau berkumpul pasti diingatkan oleh petugas linmas.

Menariknya, setiap warga yang punya keperluan ke luar desa termasuk pegawai kantoran, atau yang berjualan ke pasar di kota. Sepulang dari luar, di gate pintu masuk desa disemprot disinfektan oleh petugas yang stand by 24 jam.

Pantauan MENITINI walau ada yang ngedumel disemprot tapi sebagian masyarakat senang dengan langkah langkah preventif ini. Bahkan muncul pembicaraan beberapa orang di desa setempat, bila ada warga bepergian ke luar dan pulang diatas jam 10 malam dilarang masuk desa.

Warga desa yang merantau atau belajar di kota besar seperti; Jakarta, Kupang Makasar, Bali dan sejumlah kota lain, bila masuk ke desa selain disemprot disinfektan juga diingatkan agar selama 14 hari tidak boleh keluar dari rumahnya.

“Ini langkah langkah dan upaya pencegahan yang sudah bagus sekali dilakukan oleh desa Wailolong bekerja sama dengan lembaga adat dan melibatkan lima kepala suku di desa,”puji Fransiskus Igo Daton mantan Kepala Badan Perwakilan Desa periode sebelumnya. (poll)

Klik video lengkapnya disini:

Video 1

Video 2

4 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*