Trending Stockholm Syndrome Pasca Lesti Cabut Laporan, Apa Itu?

Lesti dan Trend Stockholm Syndrome.
Lesti dan Trend Stockholm Syndrome. (foto: pexels)

DENPASAR, MENITINI.COM – Ramai kasus Lesti ternyata masih kalah dengan ramainya berita mengenai pencabutan laporan kasus oleh dirinya sendiri. Masih kita ingat betul, pasangan Leslar yang digadang sebagai couple goals oleh banyak anak muda ini baru saja terlibat kekerasan dalam rumah tangga. Cukup miris mengingat keseharian mereka selalu nampak romantis.

Pencabutan laporan ini nyatanya malah membuat publik gemas setengah mati. Ketika para pendukung mulai menemukan titik terang saat Rizky Billar menjadi tersangka, kok bisa-bisanya sang istri malah mencabut laporannya dan berdamai. Hal ini memicu kecurigaan adanya Stockholm Syndrome dalam keluarga ini. Apa sih sindrom ini? Mengapa mendadak trending gara-gara kasus ini? Simak terus info yang redaksi kumpulkan berikut!

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Sindrom Stockholm bukanlah diagnosis psikologis. Sebaliknya, ini adalah cara untuk memahami respons emosional beberapa orang terhadap penculik atau pelaku. Ya, Anda tidak salah baca. Awalnya nama ini muncul akibat kasus penculikan lawan jenis. Seiring perkembangan zaman, nama ini juga berlaku pada kasus terkait kekerasan dalam rumah tangga atau hubungan abusif.

Respon emosional ini tumbuh menjadi rasa simpati atau perasaan positif lainnya terhadap si pelaku. Umumnya bila kejadian sudah berminggu-minggu bahkan tahunan dengan kontak yang intens. Hal ini menumbuhkan keterikatan korban-pelaku yang terkesan sebagai hubungan positif dari sisi korban. Contohnya emosi berupa cinta, simpati, empati dan keinginan untuk melindungi pelaku.

BACA JUGA:  Mengenal Self-healing, Bukan Sekedar Plesir ke Cappadocia

Menyoal asal muasal penamaan ini berawal dari kasus tahun 1937. Seorang kriminolog Swedia, Nils Bejerot menarik kesimpulan dari beberapa kasus kriminal era tersebut. Ia ingin menggambarkan reaksi tak terduga para sandera terhadap penculik mereka. Meskipun terjebak dalam situasi yang mengancam jiwa, orang-orang ini menjalin hubungan positif dengan para penculiknya. Bahkan banyak dari mereka yang membantu membayar pengacara setelah mereka tertangkap.

Mengapa Terjadi Stockholm Syndrome?

Tidak semua orang yang berada dalam situasi sama pasti mengalami sindrom ini. Tidak sepenuhnya jelas mengapa beberapa orang dapat bereaksi seperti ini, tetapi itu dianggap sebagai salah satu mekanisme bertahan hidup. Seseorang mungkin menciptakan ikatan ini sebagai cara untuk mengatasi situasi yang ekstrem dan menakutkan. Beberapa kunci penting yang dapat meningkatkan kemungkinan Stockholm Syndrome antara lain:

  • Menghadapi situasi emosional untuk waktu yang lama
  • Berada di ruang bersama dengan penyandera dengan kondisi yang buruk (misalnya tidak cukup makanan, ruang yang secara fisik tidak nyaman)
  • Korban /sandera bergantung pada penyandera untuk kebutuhan dasar
  • Ketika ancaman terhadap kehidupan tidak dilakukan (misalnya eksekusi palsu)
  • Korban merasa tidak dimanusiakan ketika sebelum bersama pelaku

Seseorang mungkin dilecehkan dan diancam berat oleh penculik atau pelaku, tetapi mereka juga bergantung pada mereka untuk bertahan hidup. Jika pelakunya baik dengan cara apa pun, mereka mungkin berpegang teguh pada pemikiran ini. Bisa kita simpulkan lebih sebagai mekanisme untuk bertahan hidup. Ujung-ujungnya menjadi simpati terhadap mereka.

BACA JUGA:  Polisi Sebut Malam Tahun Baru Munculkan Beragam Kriminalitas

Memang tidak banyak penelitian tentang Stockholm Syndrome karena bukan merupakan diagnosis. Peneliti perilaku menyimpulkan bahwa kemungkinan akan lebih tinggi terjadi sindrom ini pada kasus-kasus berikut:

  • Pelecehan anak

Pelecehan bisa sangat membingungkan bagi anak-anak. Pelaku sering mengancam dan menyakiti korbannya secara fisik, tetapi mereka juga dapat menunjukkan kebaikan yang dapat diartikan sebagai cinta atau kasih sayang. Ikatan emosional dapat tumbuh antara anak dan pelaku yang seringkali melindungi pelaku untuk waktu yang lama.

  • Olahraga

Anak-anak atau remaja yang memiliki pelatih atletik yang kasar dapat berkembang menjadi sindrom ini. Jika mereka mulai merasionalisasi perilaku pelatih, mereka mungkin membela atau bersimpati dengan mereka. Ketika rasionalisasi ini terjadi, maka muncullah Stockholm Syndrome.

  • Hubungan Abusif

Hubungan abusif dan toksik, termasuk kekerasan rumah tangga (KDRT). KDRT disini mencakup kekerasan non konsensual secara seksual, fisik, atau emosional dapat menyebabkan ikatan emosional yang membingungkan antara korban dan pelaku.

  • Perdagangan Seks

Orang-orang yang diperdagangkan dan dipaksa menjadi pekerja perdagangan seks menjadi tergantung pada para penculik untuk kebutuhan dasar. Mereka mungkin mengembangkan ikatan emosional sebagai cara untuk bertahan hidup. Bisa juga terkait dengan segi ekonomi dari korban.

BACA JUGA:  Tertangkap Basah, Jambret di Kuta Dihajar Massa

Dampak Stockholm Sindrom pada Kesehatan

Sindrom Stockholm tidak terdaftar sebagai diagnosis kesehatan mental formal dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Orang yang memiliki sindrom ini tampak memiliki beberapa gejala umum lainnya seperti timbul rasa malu tentang emosi mereka terhadap pelaku, kebingungan, rasa bersalah, sulit mempercayai pihak lain dan gangguan stres pasca trauma.

Gejala ini dapat berkembang apabila sudah terjadi pelecehan atau penyekapan pada korban bahkan menjadi diagnosis psikiatri dengan spektrum yang lebih luas. Perkembangan gejala ini dapat menjadi antara lain:

  • Penyangkalan
  • Penarikan sosial
  • Perasaan tegang kronis
  • Perasaan kosong
  • Perasaan putus asa
  • Depresi
  • Kecemasan
  • Ketidakberdayaan dan ketergantungan berlebihan
  • Kehilangan minat dalam aktivitas

Kembali ke kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan diri setelah trauma bisa jadi sulit. Mungkin sangat sulit bagi korban untuk membicarakan pengalaman mereka karena dapat mencetuskan trauma. Jika Anda merasa atau mengenal seseorang yang mungkin mengidapnya, segera rekomendasikan untuk berbicara dengan terapis atau psikolog. Terapi dapat membantu melalui pemulihan, gangguan stres pasca-trauma, kecemasan, dan depresi lebih cepat. Dengan berkonsultasi, Anda sekaligus dapat mempelajari mekanisme pertahanan diri yang lebih baik dan membantu memproses perasaan. (M-010)