Ribuan ODG di Bali Tak Terurus, Suryani : Saya Sudah Dekati Ibu Gubernur, Tak Ada Jawaban

Prof Suryani menerima donasi dari para pelari untuk perawatan OGDJ di Bali

DENPASAR, MENITINI Penelitian Suryani Institute For Mental Health (SIMH) memperkirakan kurang lebih 9 ribuan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tersebar di Pulau Bali. Dan terbanyak di Kabupaten Buleleng dan Karangasem. “Dari penelitian SIMH, kami memperkirakan ada 9000 an ODGJ di Bali. Dan yang terbanyak Karangasem dan Buleleng,” dr. Tjokorda Bagus Jaya Lesmana, Minggu (25/10)

Sebelumnya,  Prof  Dr Luh Ketut  Suryani SpKJ, psikiater dan pemerhati kesehatan menegaskan, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bukan penyakit keturunan. “Ini bukan penyakit keturunan. Gangguan jiwa adalah delusi, halusinasi, rasa cemas dan takut berlebihan, serta ketidakstabilan emosi. Bukan penyakit keturunan” kata Suryani saat jadi narasumber dalam konferensi pers Bali Run For Hope di Denpasar awal Oktober lalu (9/10).

Ia mengatakan, jumlah orang yang didiagnosa gangguan jiwa di Bali meningkat, apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang berdampak pada kesulitan ekonomi masyarakat. “Banyak Orang Dengan Gangguan Jiwa tersebar di Pulau Bali. Tidak terurus. Ada juga yang terpasung. Kehidupan mereka sangat tidak layak,” kata Suryani. 

BACA JUGA:  Ratusan Pedagang Tes Cepat, Tujuh Reaktif, Gugus Tugas Intensif Lakukan Tracking

Ribuan ODGJ yang tersebar di Bali. Tak sedikit yang terpasung. Mereka tak mendapat perhatian dari pemerintah. “Belum banyak yang melihat kasus ini. Saya sudah dekati ibu gubernur, jawaban tidak. Tidak respek. Kasihan masyarakat. Pemerintah selalu bilang uang tidak ada. Sebenarnya mudah melakukan teraphy kepada ODGJ. Asalkan pemerintah sungguh sungguh memperhatikan,” kata Suryani sembari menjelaskan awalnya ia tak pernah pikir banyak orang di Bali terpasung. “Waktu ada gerakan turun ke masyarakat   ternyata banyak. ODGJ  itu karena ada trauma masa kecil. Sedikit yang terlihat, sekarang lebih mengerikan,” ujarnya. 
Mengapa kondisi sekarang lebih banyak?  Karena orang melihat, menonton dan mendengar informasi.  Apalagi di tengah pandemi semua informasi menakutkan tentang corona. “Banyak yang stres, depresi. Apalagi mereka yang di PHK. Media mestinya juga memberi informasi membangkitkan semangat dalam situasi seperti sekarang,” ujarnya. 

BACA JUGA:  Analisis BMKG: Kemungkinan Gempa Susulan di Majene, Hindari Gedung Bertingkat

Lanjutnya, angka orang bunuh diri di Bali juga tinggi. Karena putu asa. “Itu hasil penelitian kami yang menangani gangguan jiwa dari tahun 2002. Tapi sebelum sebelumnya sudah melakukan. Jangan hanya memberi uang tapi perlu memperhatikan mental masyarakat melalui edukasi,” katanya.

Target charity anda run mengumpulkan dana Rp200 juta, Dan yang sudah terkumpul 163 juta. Kegiatan ini akan berakhir sampai akhir Oktober.  Semua dana yang terkumpul dari kegiatan ini diserahkan ke yayasan Bali Hope and Freedom untuk disalurkan ke ODGJ dan orang yang terpasung di Pulau Bali.poll/fan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*