AMBON,MENITINI – Prestasi membanggakan datang dari dunia olahraga disabilitas. Pemuda asal Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, sukses mengharumkan nama Indonesia pada ajang ASEAN Para Games 2025
Nama Indonesia diharumkan di cabang olahraga tenis meja dengan memperoleh peringkat kedua pada final ASEAN Para Games melawan tuan rumah, Thailand.
Barce Eynstend Layaba, pria asal Kabupaten Aru berhasil menorehkan prestasi gemilangnya di mata International.
“Saya bersyukur sekali bisa dapat juara 2 kalahkan tuan rumah. Setelah latihan panjang dengan segala keterbatasan, saya mewakili Maluku harumkan nama Negara Indonesia,” sebut Layaba kepada wartawan, Selasa (24/3/2026).
Perjalanan Penuh Pengorbanan
Barce Layaba atau akrab dipanggil Aces itu mengaku perjalanan menjadi juara salah satu even olahraga khusus disabilitias kelas Asia itu penuh pengorbanan.
Alumni Fakultas Seni Keagamaan Kristen, Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKPEN) Ambon harus rela meninggalkan usaha makanan Khas Maluku bernama Warung Wetan yang dia dirikan sendiri di Kota Solo, Jawa Tengah.
Selama di perantauan, pria kelahiran Dobo 25 Mei 1996 itu berlatih bersama para atlet terbaik perwakilan 33 provinsi di Indonesia.
Saat latihan menguras sebagian besar waktunya. Alhasil, urusan warung harus ditinggal.
Mau tak mau, magister Musik Grejawi angkatan 2020, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon itu terpaksa menutup warungnya sementara waktu.
Dia bersama para atlet lainnya menjalai latihan intens 5 bulan di Solo.
Layaba yakin niatnya mengharumkan nama daerah dan bangsa pasti terlaksana dengan konsisten mengikuti program pembinaan national Paralympic committee (NPC) tersebut.
“Saya juga latihan mandiri biar lebih siap. Memang untuk sampai di posisi ini butuh pengorbanan. Segala aspek, keluarga, waktu sampai dana pribadi,” jelas peraih medali perak pada even tunggal International Table Tennis Federation (ITTF) World Para Challenger Giza-Mesir, November 2025.
Pertandingan di Mesir merupakan even tunggal.
Tantangan Besar.
Aces sengaja mengikutinya dengan dukungan dana pribadi untuk mengejar poin menuju olimpiade pada 2028. Sebelum sampai pada perhelatan besar itu, para atlet perlu menyiapkan poin tanding.
Bagi atlet daerah sepertinya, hal itu merupakan tantangan besar. Dukungan fiansial dari pemerintah daerah dan pusat saja tidak cukup untuk mengejar even tunggal seperti di Mesir.
“Saya punya tabungan selama menang ikut pertandingan saya simpan. Jadi pakai tabungan juga untuk dukung untuk mendapatkan juara,” kata peraih medali emas nomor ganda campuran kelas XD10 di ajang Asian Para Table Tennis Championship 2025 di Beijin.
Aces yang telah meraih berbagai medali di tingkat nasional (peparnas) maupun internasional (Asian Para Table Tennis Championship) itu sadar betul, konsistensi dan fokus sangat penting.
Kualitas diri atlet teruji oleh latihan rutin. Dia jadi lebih mengenal kemampuan diri serta melatih adaptasi dengan sesama pemain.
Keterbatasan fisik bukan penghalang baginya untuk terus membangun potensi diri sesuai bakat yang dimilikinya.
Pria yang mahir memainkan biola itu dikenal dengan sistem bertahan kuat. Saat tampil di Bejing bersama rekannya asal Riau, Leli Marlina, keduanya membuktikan hal itu. Dalam beberapa ulasan, Leli punya cara bermain menyerang yang cepat. Pada titik itu Layaba mampu mengimbangi cara main Leli.
Performa mereka itulah yang mematahkan dominasi juara dari China pada pertandingan 2025.
“Saat ini ia sedang bersiap untuk ikut Asian Para Games Nagoya Jepang pada Oktober 2025. Memang sejauh ini provinsi juga lagi susah tapi tetap bantu berikan perhatian terbaik untuk kami atlet. Saya telah melewatinya dan sudah sampai di titik ini dapat hasil baik. Lewat usaha keras dan dukungan dari berbagai pihak,” tutupnya. (M-009)
- Editor: Daton









