Selasa, 23 Juli, 2024

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

DENPASAR,MENITINI.COM-Psikolog Klinis, Nadia Rastafary, M.Psi., Psikolog, mengatakan, tak hanya kesehatan fisik, penting bagi orang tua untuk ikut serta mendukung kesehatan mental anak.

‘’Ketika anak memiliki kesehatan mental yang stabil, mereka dapat berpikir jernih, mengembangkan kepercayaan diri, membangun harga diri, hingga mampu mengelola emosi,’’ kata Nadia Rastafary di Denpasar, Jumat (6/10/2023).

Ditemui usia berbicara pada acara gelar wicara (talkshow) Kepemudaan yang digelar Disdikpora Kota Denpasar di Ruang Diskusi DNA Creative Hub dengan mengambil tema “Young Wild & Free?”, Nadia menegaskan, orang tua sebaiknya melakukan pengawasan tapi tidak serta merta membatasi anak. Orang tua juga dapat membantu anak remajanya mengelola emosi negatif dengan memperkuat harga diri dan ketahanan mereka, serta mendorong kepercayaan pada kemampuan diri sendiri (self-efficacy).

Orang tua yang memberikan pujian kepada anak remaja mereka yang bekerja keras untuk mengatasi tantangan, bukan hanya berfokus pada hasil, dapat membantu remaja melihat nilai mereka di luar pencapaian mereka. Namun ketika kesehatan mental anak tidak didukung, anak akan mengalami berbagai masalah seperti stres, depresi, atau perasaan tertekan.

BACA JUGA:  Dari Batuk Sepele ke Batuk Serius: Bagaimana Mengatasinya dengan Tepat?

‘’Pada saat yang sama, remaja membutuhkan batasan yang memungkinkan mereka membangun kemandirian, melatih kemandirian, dan mempraktikkan kompromi dalam situasi tertentu,’’ sebutnya.

Pada gelar wicara yang diikuti perwakilan pelajar SMA/SMK serta organisasi kepemudaan di Denpasar itu, Nadia Rastafary juga mengutarakan soal toxic relationship atau hubungan beracun.  Toxic relationship adalah istilah untuk menggambarkan suatu hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun kesehatan mental seseorang.

Hubungan ini tidak hanya bisa terjadi pada sepasang kekasih, tapi juga dalam lingkungan teman, friendzone, bahkan keluarga. ‘’Hubungan yang buruk tidak bisa disepelekan begitu saja, karena bagaimanapun juga toxic relationship bisa memberikan dampak buruk. Terlebih sudah melibatkan kekerasan,’’ ujarnya.

BACA JUGA:  Calon Jemaah Haji 2024 Mayoritas Lansia, Penjabat Gubernur Ingatkan Kemenag NTB Fokus Pelayanan Kesehatan 

Ia menyebutkan, kekerasan dalam hubungan terbagi dalam empat jenis, yaitu kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan finansial. Ketika mengalami hubungan tidak sehat secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan mental secara umum.

Data pengaduan Komnas Perempuan sepanjang tahun 2022 menunjukkan kekerasan seksual sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dominan (2.228 kasus/38.21%) diikuti kekerasan psikis (2.083 kasus/35,72%). Sedangkan data dari lembaga layanan didominasi oleh kekerasan dalam bentuk fisik (6.001 kasus/38.8%), diikuti dengan kekerasan seksual (4.102 kasus/26.52%). Jika dilihat lebih terperinci pada data pengaduan ke Komnas Perempuan di ranah publik, kekerasan seksual selalu yang tertinggi (1.127 kasus).

Karena itu, para remaja, kata Nadia, wajib memperhatikan kesehatan mental yang mempengaruhi bagaimana remaja menemukan jati dirinya. Bagaimana tampil baik secara akademik di sekolah, belajar di sekolah, mengeksplorasi minat bakat dan membangun relasi dengan orang-orang di sekitarnya.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Tekankan Pentingnya Kesiapan SDM Kesehatan dalam Memanfaatkan Bonus Demografi

Apa yang harus dilakukan ketika remaja mengalami gangguan kesehatan mental? Nadia mengatakan, pentingnya pertolongan pertama kesehatan mental atau Mental Health First Aid (MHFA). Ia menerangkan bahwa peran tenaga profesional sangat dibutuhkan. Misalnya dalam layanan konseling dari psikolog, psikiater, konselor, atau tokoh agama.

‘’Seseorang harus menyadari dirinya sedang tidak baik-baik saja, dengan ciri-ciri tidak mampu beraktivitas secara normal dan menyadari ada yang salah dengan dirinya. Maka segeralah menghubungi tenaga profesional,’’ tutur Nadia memungkasi. M-003

  • Editor: DRL