Senin, 24 Juni, 2024

Jembatan Tukad Bangkung, Plaga Badung, Bali

BADUNG,MENITINI.COM-Kakak beradik ini pilih mengakhiri hidupnya dengan cara meloncat dari atas jembatan Tukad Bangkung, Plaga, Kabuten Badung, Bali. Sang kakak bernama Ketut S (23) depresi setelah ditinggal meninggal dunia oleh ayah dan ibunya, akhirnya nekat mengajak adiknya yang baru berusia 5 tahun bunuh diri dengan cara meloncat dari atas jembatan tertinggi di asia tenggara itu, pada Minggu (26/5/2024) sore.

Kematian kakak beradik yatim piatu itu viral di media sosial. Beragam komenter kesedihan warganet ramai atas insiden yang memilukan itu. Sejumlah warga yang kebetulan berada di tempat itu mengaku hanya bisa menyaksikan aksi bunuh itu tanpa bisa mencegahnya. 

“Kedua kakak beradik itu tinggal di Br. Dinas Rendetin, Kelurahan Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng,” ungkap Kasi Humas Polres Badung Ipda Putu Sukarma, Senin (27/5/2024). 

BACA JUGA:  Dani Mengakhiri Hidupnya Dengan Cara Gantung Diri

Ia mengatakan, ada saksi yang melihat kedua kakak beradik itu datang di Jembatan Tukad Bangkung sekitar pukul 16.45 Wita. Saksi pengujung itu membenarkan melihat ada satu orang laki-laki bersama dengan anak kecil diam di sampingnya. 

Selang beberapa menit kemudian, saksi melihat kembali korban sudah tidak berada lagi di sampingnya. Ternyata kedua kakak beradik itu telah melompat ke Sungai Ayung (Tukad Bangkung). 

Petugas mengevakuasi mayat kakak beradik yang nekad meloncat dari atas jembatan Tukad Bangkung, dan sepeda motor milik korban. (Foto: istimewa)

Lalu Pengunjung yang ada di jembatan itu heboh, namun mereka tidak bisa berbuat banyak dan hanya menyaksikan kedua tubuh kakak beradik itu terkapar bersimbah darah di bawah jembatan. 

BACA JUGA:  Setelah Ulah Pati Kaka Beradik, Pemkab Badung Segera Lakukan Ini di Jembatan Tukad Bangkung

Polsek Petang yang menerima informasi tersebut segera ke TKP dan menemukan satu buah sepeda motor Supra tanpa pengendara. Di motor milik kedua kakak beradik itu ditemukan 1 buah KTP, 1 HP, 1 buah SIM C, 1 buah STNK, dan sepasang sandal. 

Polisi dan saksi selanjutnya menyusuri dengan berjalan kaki mengingat areal terjal yang tidak bisa di akses dengan menggunakan kendaraan. Sesampai di dasar sungai kurang lebih jarak 30 meter terdapat sebatang pohon yang patah. 

“Merasa curiga kedua personel tersebut mengecek tempat tersebut dan di temukan satu orang dewasa dan satu orang masih anak-anak dalam keadaan meninggal dunia. dengan posisi tengkurap di pinggir sungai,” beber Ipda Sukarma. 

Kedua korban lalu dievakuasi bersama kepolisian, tim dari BPBD, serta masyarakat untuk dibawa ke Puskesmas Petang II menggunakan ambulans milik Puskesmas. Pihak Puskesmas Petang menyatakan korban telah meninggal dunia. Hasil pemeriksaan awal bibir kedua korban mengeluarkan darah dan tulang tangan kanan dari korban dua patah. 

BACA JUGA:  Diduga Ingin Bunuh Diri, Bule AS Ditemukan Bersimbah Darah di Kuta

“Dugaan sementara korban meninggal dunia karena benturan keras di Kepala. Selanjutnya guna dilakukan autopsi kedua korban di bawa kerumah sakit Sanglah Denpasar,” imbuhnya. 

Sementara dari pihak keluarga kakak beradik itu, paman korban I Made Sumagata (45) mendatangi Puskesmas Petang II. Ia kaget melihat kondisi keponakannya dan menerima kenyataan tersebut sebagai musibah. “Pamanya menyatakan tidak ada permasalahan keluarga serta pihak keluarga membuat surat pernyataan. Paman korban juga menjelaskan bahwa korban tidak memiliki kedua orang tua karena meninggal dunia (Yatim Piatu) dan korban selalu merindukan kedua orang tuanya,” beber Ipda Sukarma.

  • Editor: Daton